Pembahasan tentang Zakat Fitrah

Majmu’ minal Ulama

Dikatakan juga shadaqah fitri atau zakat fitrah. Dinamakan zakat fitri karena diwajibkan ifthar (berbuka) dari puasa Ramadhan, karena kewajiban tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan. Zakat fitri tidak ada hubungannya dengan uang namun ia ditunaikan dengan makanan pokok. Zakat fitri sebagai penyuci jiwa dan badan.

Hukum zakat fitri beserta dalil-dalilnya

Zakat fitri diwajibkan atas setiap Muslim berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhallahu’anhuma:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menfardhukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (Id).” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Fardhu Shadaqatul Fithri 3/367, no. 1503 dan ini lafadznya. Diriwayatkan juga oleh Muslim)

Syarat-Syaratnya dan Untuk Siapa Diwajibkan

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan dalam hadits sebelumnya bahwa zakat fitri diwajibkan atas setiap orang Muslim baik yang besar maupun anak kecil, laki-laki maupun perempuan, orang merdeka mapun hamba sahaya.

Dan disunnahkan menunaikan zakat fitri untuk janin yang sudah ditiupkan padanya ruh, yakni janin yang berumur lebih dari 4 bulan, karena sesungguhnya salaf (orang-orang terdahulu) menunaikan untuknya sebagaimana yang tsabit dari perbuatan Utsman Radhiallahu’anhu dan selainnya.

Diwajibkan menunaikan zakat fitri untuk dirinya, untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya (istri dan anak-anaknya beserta kerabat yang dia tanggung nafkahnya), termasuk hamba sahaya yang dimilikinya. Zakat fitrinya hamba sahaya wajib ditunaikan oleh tuannya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam,

لَيْسَ فِي الْعَبْدِ صَدَقَةٌ إِلاَّ صَدَقَةُ الْفِطْرِ

“Hamba sahaya tidak berkewajiban membayar zakat, selain zakat fitrah” (Riwayat Muslim no. 982)

Noted: pembantu dan pekerja rumah yang dibayar majikan bukanlah masuk kategori hamba sayaha. Mereka wajib menunaikan zakat sendiri, tidak dibayari majikannya.

Tidaklah diwajibkan zakat fitri kecuali bagi orang yang ada kelebihan dari kemampuannya, dan bisa memenuhi kebutuhan orang-orang yang ditanggung nafkahnya untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok di malam takbiran dan hari Ied.

Dengan demikian, zakat fitri tidaklah diwajibkan kecuali memenuhi 2 syarat:
1. Islam, maka tidak diwajibkan atas orang kafir,
2. Ada kelebihan dari kemampuannya dan bisa memenuhi kebutuhan orang-orang yang ditanggung nafkahnya untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok di malam takbiran dan hari Ied.

Hikmah Diwajibkannya Zakat Fitri

Di antara hikmah diwajibkannya zakat fitri adalah sebagai berikut:

1. Sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari apa-apa yang bisa mengurangi nilai puasanya berupa perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor.

2. Memberi kecukupan fakir miskin dari kesusahan di hari Ied, mengalirkan kesenangan atas mereka, menjadikan hari Ied sebagai hari yang penuh kegembiraan dan kesenangan bagi seluruh lapisan masyarakat. Demikianlah sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

3. Menampakkan sifat orang yang mensyukuri nikmat Allah Ta’ala atas seorang hamba dengan menyempurnakan puasa Ramadhan, sholat tarawih, dan perbuatan yang menyenangkan dari amalan shalih di bulan yang mubaarak (diberkahi) ini.

Ukuran Zakat Fitri

Wajib menunaikan zakat fitri sebanyak 1 sha’ dari makanan pokok penduduk negeri berupa burr (sejenis gandum bermutu baik), atau gandum, atau kurma, atau kismis, atau keju, atau selain dari hal itu berupa makanan pokok penduduk negeri. Telah tsabit hal tersebut dari hadits-hadits yang shahih, seperti hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma sebelumnya.

Tidak boleh menunaikan zakat selain dari makanan karena hal itu menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, hal itu juga menyelisihi perbuatan shahabat Radhiallau’anhum. Sungguh mereka menunaikan zakat dengan 1 sha’ makanan.

Zakat fitri adalah ibadah wajib mu’ayyan (ditentukan) yakni berupa makanan, maka tidak boleh ditunaikan selain dari jenis yang ditentukan.

Satu sha’ sama dengan 4 mud. Sedangkan 1 mud sama dengan 1 cakupan dua telapak tangan yang berukuran sedang. Dalam kitab Fatawa Arkanil Islam, hal. 429 asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat sekitar 2,040 kg.

Waktu Mengeluarkannya

Wajib zakat fitri dengan selesainya bulan Ramadhan, yakni terbenamnya matahari di malam takbiran. Adapun menyalurkannya ada 2 waktu:

– Waktu yang utama, semenjak terbitnya fajar pada hari Ied hingga sebelum pelaksanaan sholat Ied sebagaimana hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma

وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Dan Nabi memerintahkan agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar menuju shalat.” (Riwayat Bukhari no. 1503, dan Muslim no. 984)

– Waktu yang diperbolehkan menunaikannya, pelaksanaannya 1 atau 2 hari sebelum Ied berdasarkan perbuatan Ibnu Umar dan selainnya dari para shahabat Radhialahu’anhum seperti itu.

كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُعْطِيْهَا الَّذِيْنَ يَقْبَلُوْنَهَا وَكَانُوا يُعْطُوْنَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Dulu Abdullah bin Umar memberikan zakat fitrah kepada yang menerimanya. Dan dahulu mereka menunaikannya 1 atau 2 hari sebelum hari Id (kepada amil zakat).” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab 77 no. 1511 Al-Fath, 3/375)

Tidak boleh mengakhirkannya dari sholat Ied, maka jangan sampai zakat fitri diserahkan ke tangan orang yang berhak menerimanya setelah Shalat Ied. Karena jika diakhirkan ia teranggap shadaqah, dan berdosa atas yang mengakhirkannya berdasarkan sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam,

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

“Maka barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Id) maka itu zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu hanya sekedar sedekah dari sedekah-sedekah yang ada.” (HR. Abu Dawud no. 1609, Ibnu Majah no. 1827, dari hadits Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma. Dihasankan asy-Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ no. 843)

(Dari Kitab Fiqhul Muyassar fii Dhau al-Kitabi wa as-Sunnah, Penulis Majmu’ minal Ulama, Taqdim asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh, hal. 141-143)

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Fiqhul Muyassar, Fiqih, Zakat, Zakat Fitri, Zakat Mal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image