Beginilah Caranya Melahirkan Generasi Anak-Anak yang Shalih

asy-Syaikh Abdussalam bin Abdillah as-Sulaiman

Sebuah perkara yang mustahab di saat malam pertama bagi pengantin baru, hendaknya seorang suami meletakkan tangannya di atas bagian depan kepala istrinya (ubun-ubunnya) sembari mendoakannya, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيُسَمِّ اللهَ عز وجل وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ وَلْيَقُلْ: اللّهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendoakan keberkahan dan mengatakan: ‘Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya’.” (HR. Abu Dawud no. 2160, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Ahlul ‘ilmi ada yang memandang setelah dia bertemu dan mendoakan istrinya disenangi baginya untuk shalat dua rakaat bersamanya. Hal ini dinukilkan dari atsar Abu Sa’id maula Abu Usaid Malik bin Rabi’ah Al-Anshari. Ia berkata: “Aku menikah dalam keadaan aku berstatus budak. Aku mengundang sejumlah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara mereka ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhum. Lalu ditegakkan shalat, majulah Abu Dzar untuk mengimami. Namun orang-orang menyuruhku agar aku yang maju. Ketika aku menanyakan mengapa demikian, mereka menjawab memang seharusnya demikian. Aku pun maju mengimami mereka dalam keadaan aku berstatus budak. Mereka mengajariku dan mengatakan, “Bila engkau masuk menemui istrimu, shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kebaikannya dan berlindunglah dari kejelekannya. Seterusnya, urusanmu dengan istrimu.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, demikian pula Abdurrazzaq. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata dalam Adabuz Zafaf hal. 23, “Sanadnya shahih sampai ke Abu Sa’id”).

Menyebut nama Allah Azza wajalla tatkala jima’ (berhubungan suami istri)

Dan di antara sebab yang bisa membantu proses melahirkan generasi anak-anak yang shalih adalah berdoa sebelum jima’.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانَ أَبَدًا

“Seandainya salah seorang kalian apabila hendak menggauli istrinya dia berdoa (yang artinya): Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan, dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami; maka sesungguhnya apabila ditakdirkan mendapat keturunan melalui hubungan tersebut, syaitan tidak akan memudharatkannya selamanya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Disebutkan oleh para ulama makna “syaitan tidak akan memudharatkannya selamanya”:

1. Bahwasanya syaitan tidak bisa meliputinya karena keberkahan tasmiyah (ucapan bismillah).
2. Bahwasanya syaitan tidak bisa menganggunya.
3. Bahwasanya syaitan tidak bisa memudharatkan badannya.
4. Berkata Ibnu Daqiq al-Ied, “Ini mengandung makna bahwasanya syaitan tidak bisa memudharatkan agamanya juga.”
Sedangkan ad-Daudi berkata, “Maknanya adalah tidak akan terfitnah dari agamanya kepada kekufuran, dan bukanlah yang dimaukan berupa penjagaan dari maksiat.”
(Fathul Baari karya Ibnu Hajar, 9/285-286 (5165))

Maksudnya adalah bahwasanya Allah Azza wajalla menjaga anak ini dari godaan syaithan dan gangguannya dengan keberkahaan doa ini sebagaimana yang dituntunkan nabi kita Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.

Perhatian ibu pada usia kehamilan

Di antara perkara yang dengannya untuk menjaga kesehatan anak dan mendidik mereka adalah perhatian seorang ibu pada usia kandungan untuk menjauhkan faktor-faktor yang membahayakan kehamilan dan janin, seperti:

a. Obat-obatan kimia dan narkoba
b. Pekerjaan yang terlalu berat
c. Rokok dari ibu atau suami
d. Perasaan sedih atau stres (anak kecil dilahirkan dominan, karena janin itu berperasaan dengan perasaan ibunya)

Kabar gembira saat kelahiran

Ketika seorang Muslim dikaruniai anak, disunnahkan baginya memberi kabar gembira dengan kelahiran, dan hendaknya kabar gembira disampaikan sebelum anaknya lahir sebagaimana Allah Azza wajalla berfirman,

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya.” (Maryam: 7)

Dan Allah Jalla Sya’nuhu berfirman,

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ

“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (ash-Shaaffaat: 101)

Dan Allah Ta’ala berfirman,

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih.” (ash-Shaaffaat: 112)

Dan Allah Jalla Sya’nuhu berfirman,

إِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),” (Ali Imran: 45)

Sujud syukur

Dan tatkala mendapat anugerah seorang anak, disunnahkan bagi seorang Muslim hendaknya sujud syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. dan sujud syukur itu disyariatkan bahkan ketika mendapatkan nikmat yang baru (nikmat yang sangat besar dari nikmat yang lain) atau ketika tercegah dari musibah/adzab yang besar. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayim dalam Zadul Ma’ad 1/270 dan Syaikh Abdurrahman Ali Bassam dalam Taudlihul Ahkam 2/140 dan lain-lain.

Caranya adalah dengan melakukan sujud satu kali seperti sujud tilawah.

Dari Abi Bakrah Radhiallahu’anhu dia berkata,
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam apabila datang kepadanya berita yang menggembirakannya, beliau tersungkur sujud kepada Allah. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 7/20477, Abu Dawud 2774, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dalam Al Iqamah, Abdul Qadir Irfan menyatakan bahwa sanadnya shahih. Dihasankan pula oleh Syaikh Al Albani)

Sujud Ka’ab bin Malik karena syukur kepada Allah ketika diberi kabar gembira bahwa Allah menerima taubatnya. (Dikeluarkan oleh Bukhari 3/177-182, Muslim 8/106-112, Baihaqi 2/370, 460, dan 9/33-36, dan Ahmad 3/456, 459, 460, 6/378-390)

[Dinukil dari Kitab Tarbiyatul Aulad fii Dhaui al-Kitabi wa as-Sunnati, Penulis Abdussalam bin Abdillah as-Sulaiman, Taqdim Syaikh Shalih Fauzan, hal. 22-26]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Potret Keluarga, Tarbiyatul Aulad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image