Menyambut Kelahiran Anak dengan Mentahnik, Memberi Nama, dan Kuniyah

asy-Syaikh Abdussalam bin Abdillah as-Sulaiman

Sunnahnya tahnik

Tahnik adalah mengunyah kurma kemudian menggosokkannya di langit-langit mulut bayi. Dalil tentang tahnik ini disebutkan dalam beberapa hadits di antaranya:

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lahir seorang anakku maka aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau memberinya nama Ibrahim. Beliau mentahniknya dengan kurma dan mendo’akan barakah untuknya. Kemudian beliau menyerahkan bayi itu kepadaku.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (5467 Fathul Bari) Muslim (2145 Nawawi), Ahmad (4/399), Al- Baihaqi dalam Al-Kubra (9/305) dan Asy-Syu’ab karya beliau (8621, 8622)]

Dari Asma binti Abi Bakar Ash-Shiddiq ketika ia sedang mengandung Abdullah bin Az-Zubair di Makkah, ia berkata, “Aku keluar (untuk hijrah) dalam keadaan hamil menuju kota Madinah. Dalam perjalanan aku singggah di Quba dan di sana aku melahirkan. Kemudian aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meletakkan anakku di pangkuan beliau. Beliau meminta kurma lalu mengunyahnya dan meludahkannya ke mulut bayi itu, maka yang pertama kali masuk ke kerongkongannya adalah ludah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mentahniknya dengan kurma dan mendo’akan barakah baginya. Lalu Allah memberikan barakah kepadanya (bayi tersebut).” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (5469 Fathul Bari), Muslim (2146, 2148 Nawawi), Ahmad (6247) dan At-Tirmidzi (3826)]

Tahnik dilakukan sebagai latihan makan bagi bayi hingga ia kuat. Berkata ibnu Hajar al-Atsqalani, “Tahnik lebih utama dilakukan dengan kurma, jika tidak mudah mendapatkannya maka dengan ruthab (kurma kering), jika tidak ada maka dengan sesuatu yang manis, atau madu lebah, atau selain itu.” (Fathul Baari 9/728)

Dan di antara dalil disyariatkannya tahnik oleh orangtua dan mustahab dilakukan untuk anak yang baru lahir, sebagaiman hadits dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Seorang anak Abu Thalhah merasa sakit. Lalu Abu Thalhah keluar rumah sehingga anaknya itu pun meninggal dunia. Setelah pulang, Abu Thalhah berkata, ‘Apa yang dilakukan oleh anak itu?’
Ummu Sulaim menjawab, ‘Dia lebih tenang dari sebelumnya.’ Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makan malam kepadanya.
Selanjutnya Abu Thalhah mencampurinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata, ‘Tutupilah anak ini.’ Dan pada pagi harinya, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya memberitahu beliau, maka beliau bertanya, “Apakah kalian bercampur tadi malam?’ ‘Ya,’ jawabnya.
Beliau Shallalahu’alaihi wasallam pun bersabda, ‘Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada keduanya.’ Maka Ummu Sulaim pun melahirkan seorang anak laki-laki.
Lalu Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas bin Malik), ‘Bawalah anak ini sehingga engkau mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah bersamanya ada sesuatu (ketika di bawa kesini?’
Mereka menjawab, ‘Ya. Terdapat beberapa buah kurma.’
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil buah kurma itu lantas mengunyahnya, lalu mengambilnya kembali dari mulut beliau dan meletakkannya di mulut anak tersebut kemudian mentahniknya dan memberinya nama ‘Abdullah.” [Dikeluarkan oleh Al-bukhari (5470 Fathul Bari), Muslim (2144 Nawawi)]

Berkata imam an-Nawawi Rahimahullah. “Ulama sepakat atas mustahab (disukainya) tahnik untuk anak yang baru lahir oleh oranguanya.”

Memberi nama anak yang baru lahir dan kuniyah yang baik

Sesungguhnya di antara hak-hak seorang anak atas bapaknya adalah memberi nama yang bagus untuknya. Dalam hadits yang driwayatkan Abu Daud, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian. Maka berilah kalian nama yang bagus.” [Dikeluarkan Abu Daud (4948), dari Abu Darda Radhiallahu’anhu]

Dan dari Aisyah Radhiallahu’anha, “Bahwasanya kebiasaan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam adalah mengganti nama yang jelek.” [Riwayat Tirmidzi (2839)]

Maka beliau mengganti nama Abu Bakr bin Abdil Ka’bah menjadi Abu Bakr bin Abdillah. Dan Abdurrahman bin Auf nama sebelumnya adalah Abdul Ka’bah, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menamainya dengan Abdurrahman.

Inilah penuturan Abdullah bin Umar, mengungkapkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,
“Anak perempuan Umar bin Al Khaththab bernama ‘Ashiyah (wanita yang suka bermaksiat), maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberinya nama Jamilah (wanita yang cantik).” (HR. Muslim no. 2139)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda.
“Sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda juga,
“Namailah (anak kalian) dengan nama para nabi, dan sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam, dan nama yang paling jelek adalah Harb dan Murrah.” [Dikeluarkan Abu Daud (4950), Nasai (3565)]

Dari Sa’id bin Musayyyab, dari bapaknya, bahwasanya nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata padanya, “Siapa namamu?” Dijawab, “Hazn.”
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Bahkan kamu adalah Sahl.”
Dia berkata, “Aku tidak akan merubah nama yang diberikan bapakku.”
Berkata bin Musayyab, “Maka tidaklah hilang hazn (kesedihan) kami setelah kejadian itu.” [Riwayat Bukhari (6190)]

Berkata Ibnu Baththal, “Di dalamnya terdapat perintah untuk memberikan nama yang bagus untuknya. Adapun mengganti namanya menjadi lebih bagus bukanlah kewajiban, akan tetapi itu adalah mustahab (disukai).”

Begitu pula nama-nama yang mengandung tazkiyah, seperti anak perempuan Abu Salamah yang semula bernama Barrah (wanita yang suci) kemudian diganti oleh Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam dengan nama Zainab. Dia mengisahkan sendiri peristiwa ini:
“Dulu aku bernama Barrah, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberiku nama Zainab.” (HR. Muslim no. 2142)

Bahkan kedua istri beliau, Zainab bintu Jahsy dan Juwairiyah bintu Al Harits radhiallahu ‘anhuma, semula bernama Barrah, kemudian beliau mengganti nama mereka berdua. (HR .Muslim no. 2140 dan 2141)

Disebutkan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah, “Bahwasanya nama seseorang akan membekas pada perilakunya, dan perilakunya akan sesuai atas namanya yang bagus atau jelek, baik banyak atau sedikit.” (Zaadul Ma’ad 2/307)

Kuniyah (nama penggilan)

Adapun kuniyah, apabila nama panggilannya bagus maka akan membekas dalam jiwanya dan memuliakan orang yang menyandangnya. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah sya’ir,

Berilah nama kuniyah untuk memanggil dan memuliakannya
Dan jangan memberi laqab (gelar) dengan laqab yang buruk

Kuniyah adalah apa-apa yang didahului dengan Abu atau Ummu. Adapun laqab adalah apa-apa yang dipahami dari asal negerinya dan sifat tertentu yang ada pada dirinya.

Disyariatkan memanggil seseorang dengan nama kuniyah walaupun orang itu belum memiliki anak. Demikian pula yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada seorang anak kecil, seperti yang kita dengar dalam penuturan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan aku mempunyai saudara laki-laki yang telah disapih bernama Abu ‘Umair. Apabila Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam datang kemudian melihatnya, beliau biasanya mengatakan: ‘Wahai Abu ‘Umair! Apa yang dilakukan burung kecilmu?’ Dia biasa bermain-main dengan burung kecil itu.” (HR. Muslim no. 2150)

Dan berkata Umar bin Khaththab Radhiallahu’anhu, “Bergegaslah memberi kuniyah anak-anak kalian agar tidak ada yang memanggil mereka dengan laqab yang buruk.” (Adabusy Syari’ah li Ibnu Muflih 1/480)

[Dinukil dari Kitab Tarbiyatul Aulad fii Dhaui al-Kitabi wa as-Sunnati, Penulis Abdussalam bin Abdillah as-Sulaiman, Taqdim Syaikh Shalih Fauzan, hal. 31-37]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Potret Keluarga, Tarbiyatul Aulad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image