Tidah Boleh Bertabarruk (Meminta Berkah) Kepada Pohon, Batu, Kuburan, dan Selainnya

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi

Abi Waqid al-Laitsi radhiallahu’anhu menuturkan : “Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah menuju Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran, di saat itu orang-orang musyrik memiliki sebatang pohon bidara yang dikenal dengan dzatu anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon tersebut, disaat kami sedang melewati pohon bidara tersebut, kami berkata : “Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami dzatu anwath sebagaimana mereka memilikinya”.
Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian) demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, kalian benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa : “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan, Musa menjawab : “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti (faham), kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi, dan dinyatakan shahih olehnya)

Penjelasan per-kata

Menuju Hunain: yakni perang Hunain.
Dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran: yakni baru masuk Islam (Mualaf)
Mereka selalu mendatanginya: karena mengaggapnya keramat dan bertabarruk dengannya.
Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab “Allahu Akbar”: yang dimaukan dengannya adalah meninggikan kalimat Allah dan heran dengan perilaku menjadikan pohon sebagai keramat.
Mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian (musyirikin jahiliyah): yang dimaukan adalah tradisi kaum Yahudi dan Nashrani.

Penjelasan global

Abi Waqid al-Laitsi radhiallahu’anhu mengkabarkan kepada kita bahwasanya para shahabat menemani nabi shallallahu’alaihi wasallam menuju perang Hunain. Orang-orang musyrikin memiliki sebuah pohon yang mereka anggap keramat untuk bertabarruk dengannya dan beribadah disekitarnya yang perkara ini tidak dijumpai dalam agama Islam. Maka orang-orang yang baru masuk Islam meminta kepada nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk menjadikan sebuah pohon yang bisa mereka keramatkan dan bertabarruk dengannya dan beribadah di sekitarnya sebagaimana kaum musyrikin jahiliyah.
Maka nabi shallallahu’alaihi wasallam terheran-heran dengan permintaan ini seraya bertakbir, membesarkan Allah dari permisalan ini.

Kemudian memberitahu mereka bahwasanya permintaan mereka ini serupa dengan permintaan bani Israil kepada Musa yang meminta dibuatkan sesembahan (benda untuk dikeramatkan) selain Allah Azza wajalla setelah Allah Azza wajalla menyelamatkan dari Fir’aun dan kaumnya.
Kemudian mengkabarkan bahwa umat ini pasti akan melakukan amalan Yahudi dan Nashrani dalam setiap perkara dari kesyirikan dan selainnya.

Faidah hadits ini

1. Disukai menampakkan apa-apa yang bisa menghindarkan dirinya dari ghibah seperti ucapan, “Kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran.”
2. Orang yang bodoh mendapatkan udzur jika belum sampai kepadanya ilmu.
3. Haramnya menyerupai perbuatan kaum jahiliyah dari orang-orang musyrik dan selainnya.
4. Bolehnya bertakbir tatkala terheran-heran (takjub)
5. Bahwasanya kesyirikan masih melanda umat ini.
6. Bahwasanya umat ini pasti akan melakukan setiap apa-apa yang dilakukan Yahudi dan Nashara.
7. Bahwasanya apa-apa yang mencelakakan umat Yahudi dan Nashara telah diperingatkan atas kita.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi, hal. 101-103]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image