Mempersembahkan Qurban Untuk Selain Allah Ta’ala Adalah Perbuatan Syirik

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Ta’ala, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (al-An’aam: 162-163)

Penjelasan per-kata

Shalatku: yang dimaukan adalah shalat wajib yang lima waktu dan shalat sunnah.
Sembelihanku: yakni menyembelih hewan untuk diqurbankan
Hidupku: yang dijalani dalam kehidupan.
Matiku: ketika menjumpai kematian dengan iman dan amalan shalih.
Hanyalah untuk Allah Ta’ala: ikhlas semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala. Atau yang diinginkan adalah hidup dan mati di tangan Allah, maka jadilah ayat ini sebagai dalil tauhid uluhiyah dan rububiyah.

Penjelasan global

Allah Subhanahu wata’ala menyuruh nabi-Nya, Muhammad shallalahu’alaihi wasallam untuk mengkabarkan kepada kaum Musyrikin yang menyembah selain Allah: Bahwanya shalatku, sembelihan qurbanku, dan apa-apa yang kujalankan dalam kehidupanku, dan ketika kujumpai kematian dalam iman dan amalan shalih, semuanya itu ikhlas semata-mata untuk Allah Azza wajalla, bukan untuk selain-Nya.

Dan bahwasanya beliau shallalahu’alaihi wasallam (dan umatnya) adalah orang yang pertama-pertama memiliki keyakinan dan berserah diri dalam keta’atan kepada Allah Azza wajalla dari umat ini.

Faidah ayat ini

1. Bahwasanya shalat dan menyembelih hewan qurban (mempersembahkan qurban) adalah jenis ibadah.
2. Bahwasanya seluruh perbuatan baik seorang hamba jika dengannya diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wajalla, teranggap sebagai ibadah.
3. Bahwasanya nilai dari ibadah seseorang dilihat pada akhir kesudahannya. (meninggal dalam keadaan muslim dan mentauhidkan Allah Azza wajalla)
4. Bahwasanya ikhlas semata-mata untuk Allah Azza wajalla merupakan syarat diterimanya sebuah amalan.

Ayat ini sebagai dalil atas bahwasanya menyembelih hewan qurban (mempersembahkan qurban) tidak sah kecuali untuk Allah Azza wa Jalla karena menyembelih hewan qurban adalah jenis ibadah. Dan memalingkan ibadah untuk selain Allah Azza wa Jalla merupakan perbuatan syirik.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi, hal. 104-105]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Fiqih Qurban, Kurban, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image