Tidak Boleh Menyembelih Qurban di Tempat Keramat

asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi

Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu’anhu berkata :
“Ada seseorang yang bernadzar akan menyembelih onta di suatu tempat bernama Buwanah, lalu ia bertanya kepada Rasulullah, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya : “Apakah di tempat itu ada berhala-berhala yang pernah disembah oleh orang-orang jahiliyah? Para sahabat radhiyallahu’anhum menjawab, “Tidak.”
Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam bertanya lagi, “Apakah di tempat itu pernah dirayakan hari raya mereka?” Para sahabatpun menjawab, “Tidak.”
Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkata, “Laksanakan nadzarmu itu, karena nadzar itu tidak boleh dilaksanakan dalam bermaksiat kepada Allah, dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh seseorang.” (HR. Abu Daud no. 3313, dan Isnadnya menurut persyaratan Imam Bukhari dan Muslim).

Penjelasan per-kata

Nadzar: bertekad membebani dirinya dengan sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Buwanah: nama suatu tempat di sebelah selatan kota Makkah, sebelum Yalamlam; atau anak bukit sebelah Yanbu’.
Berhala: sesuatu yang disembah selain Allah berupa gambar atau patung.
Hari raya: yang maukan adalah perayaan hari besar yang berulang-ulang setiap tahun dari perayaan hari besar jahiliyah.

Penjelasan global

Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu’anhu mengkabarkan kepada kita bahwasanya ada seorang laki-laki yang bernadzar akan menyembelih seekor unta di sebuah tempat bernama Buwanah. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam meminta keterangan secara detail tentang tempat tersebut, Apakah di tempat itu ada berhala-berhala yang disembah oleh orang-orang jahiliyah? Apakah di tempat itu pernah dirayakan hari raya mereka? Maka tatkala nabi shallallahu’alaihi wasallam diberitahu bahwa tempat tersebut tidak ada sesuatupun dari hal itu, laki-laki itupun diperintah melaksanakan nadzarnya.

Atas dasar itulah ditetapkan suatu hukum keumuman yang sedikitpun tidak akan dihapus sampai hari kiamat bahwasanya tidak ada nadzar dalam bermaksiat kepada Allah, dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh seseorang.

Faidah hadits ini

1. Wajibnya melaksanakan nadzar jika nadzar itu tidak dalam maksiat atau mustahil.
2. Disyariatkan bagi seorang mufti untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum berfatwa untuk mendapatkan keterangan yang jelas.
3. Haramnya melakukan amalan ketaatan di lokasi kemaksiatan apalagi lokasi kesyirikan.
4. Haramnya melaksanakan nadzar jika nadzar itu dalam perkara maksiat, dengan menebusnya seperti tebusan kaffarah sumpah.
5. Tidak seyogyanya bernadzar dalam hal yang tidak menjadi hak miliknya atau bernadzar yang mustahil dilakukan bani adam.
6. Bolehnya mengkhususkan tempat atau waktu dalam pelaksanaan nadzar selama tempat itu bebas dari hal-hal yang terlarang.

Hadits ini sebagai dalil atas tidak bolehnya melakukan amalan ketaatan di lokasi maksiat apalagi di lokasi kesyirikan dan keramat. Termasuk darinya adalah terlarang menyembelih qurban di lokasi yang biasa menyembelih untuk selain Allah. Harus dihindari perbuatan yang menyerupai orang-orang musyrik dalam acara-acara keagamaan dan perayaan-perayaan mereka, walaupun tidak bermaksud demikian.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Penulis asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi, hal. 113-114]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image