Inilah Tips Sebab-Sebab Terkabulnya Doa (Bagian 1)

al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah

(Bagian 1)

Jika hadirnya qalbu berkumpul dengan doa yang dipanjatkan. Dan berkumpulnya seluruhnya atas apa yang dimintanya, bertepatan dengan waktu dari waktu-waktu terkabulnya doa yang enam: [Di akhir sepertiga malam, ketika adzan, antara adzan dan iqamah, di akhir shalat-shalat yang wajib, ketika naiknya imam jumat ke atas mimbar sampai selesainya shalat di hari itu, dan di akhir waktu ashar], bertepatan dengan khusyuknya qalbu, dan butuhnya dia dengan kedua tanggan Rabb, tadharru’ dan merendahkanya hatinya, doa menghadap kiblat, dia dalam keadan suci, mengangkat kedua tangannya kepada Allah Azza wa Jalla, memulai doanya dengan pujian dan sanjungan kepada-Nya, dilanjutkan dengan shalawat atas Muhammad selaku hamba dan Rasul-Nya shallalahu’alaihi wasallam, kemudian memulai hajatnya dengan taubat dan istighfar, lantas dia masuk kepada permintaannya dengan merengek dalam masalahnya, terus dia meminta dan berdoa dalam keadaan harap dan cemas, bertawasul dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya dengan tauhid kepadanya, dia panjatkan doanya itu yang diiringi dengan shadaqah.

Maka sesungguhnya doa yang seperti ini hampr-hampir tidak akan tertolak selamanya. Apalagi jika doanya tepat dan mencocoki dengan doa yang diajarkan oleh nabi shallallahu’alaihi wasallam dengan lafazh doa yang dikabarkan akan dikabulkan atau doanya itu mengandung nama Allah yang paling agung.

Di antara doa yang diajarkan oleh nabi shallallahu’alaihi wasallam dengan lafazh doa yang dikabarkan akan dikabulkan atau doanya itu mengandung nama Allah yang paling agung adalah apa yang ada di dalam sunan dan Shahih Ibnu Hibban dari hadits Abdullah bin Buraidah dari bapaknya radhiyallahu’anhum, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendengar seseorang mengucapkan (dalam doanya):

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اَللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

‘Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu butuh kepada-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamai-Nya, (sesungguhnya aku mohon kepadaMu).’
Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sungguh dia telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang apabila dia meminta dengannya akan diberi dan apabila dia berdoa dengannya akan dikabulkan.” Dalam lafazh yang lain, “Sungguh engkau telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang agung.” (HR. Abu Dawud 2/62, At-Tirmidzi 5/515, Ibnu Majah 2/1267, Ahmad 5/360, lihat Shahih Ibnu Majah 2/329 dan Shahih At-Tirmidzi 3/163)

Dan di dalam sunan dan Shahih Ibnu Hibban juga, dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwasanya tatkala dia sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ada seseorang yang sedang shalat kemudian berdoa dengan mengucapkan (dalam doanya):

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ

‘Ya Allah! Aku mohon kepada-Mu dengan (memuji) bahwasanya bagi-Mu segala pujian, tiada Ilah (yang hak disembah) kecuali Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Wahai Yang Maha Agung dan Maha Pemurah, wahai Yang Hidup, wahai yang mengurusi segala sesuatu.’
Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung yang apabila dia berdoa dengannya akan dikabulkan dan apabila dia meminta dengannya akan diberi.” (HR. Seluruh penyusun As-Sunan. Lihat Shahih Ibnu Majah 2/329)

Kedua hadits di atas juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya.

Dan di dalam Jami’ Tirmidzi dari hadits Asma’ bintu Yazid radhiyalahu’anha bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dua nama Allah yang agung ada di dua ayat yaitu: (ayat yang pertama)

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

“Dan Ilahmu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 163)

(ayat yang kedua) dalam pembukaan surah Ali Imran

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (Ali Imran: 2) (Riwayat Tirmidzi, dia berkata hadits ini Shahih)

Dan di dalam Musnad Imam Ahmad dan Shahih al-Hakim dari hadits Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Rabi’ah bin Amir radhiyalahu’anhum, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Sertakanlah nama-Nya Yaa dzal Jalaali wal Ikroom (dalam setiap doamu).”

يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Wahai Yang Maha Agung dan Maha Pemurah” Yakni bergantunglah dengan kalimat itu, berpeganglah terus, dan terus menerus dengan kalimat itu dalam setiap doamu.” (Riwayat Ahmad dan al-Hakim)

Dan di dalam Jami’ Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya apabila Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tengah dilanda kesulitan, beliau mengangkat kepalanya ke langit. Dan apabila bersungguh-sungguh dalam berdoa, beliau mengucapkan (dalam doanya)

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ

“Wahai Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (Riwayat Tirmidzi)

Dan di dalam Jami’ Tirmidzi juga dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dia berkata, manakala nabi shallallahu’alaihi wasallam tengah dirundung perkara yang menyedihkan, beliau mengucapkan (dalam doanya)

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

“Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan.”

Dan di dalam Shahih al-Hakim dari hadits Abu Umamah radhiyalahu’anhu dari nabi shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda, “Nama Allah yang agung ada di tiga surah dalam al-Quran yaitu di dalam surah al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaahaa”
Berkata perawi hadits ini yang bernama al-Qasim, ‘Maka aku cari, dan ternyata dia adalah ayat al-Hayyu al-Qayyum.’ (Riwayat al-Hakim)

…Bersambung… insyaallah

(Dinukil dari kitab ad-Da`u wad Dawa` aw al-Jawabul Kaafi, Penulis al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hal. 10-14)

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Ad Dau wad Dawa, Jawabul Kafi, TAZKIYATUN NUFUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image