Inilah Tips Sebab-Sebab Terkabulnya Doa (Bagian 2)

al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Bagian 2

Dan di dalam Jami’ Tirmidzi dan Shahih al-Hakim dari hadits Sa’id bin Abi Waqqash radhiyalahu’anhu dari nabi shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda:
“Doanya Dzunnun (nabi Yunus ‘alaihissalam) ketika dia berdoa di dalam kegelapan perut ikan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

‘Tidak ada Ilah melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.’ (al-Anbiya: 87)
Bahwasanya tidaklah seorang muslim berdoa dengan bacaan itu dalam setiap sesuatupun kecuali akan Allah kabulkan baginya.” (Riwayat Tirmidzi, dia berkata hadits ini Shahih)

Dan di dalam Mustadrak al-Hakim juga dari hadits Sa’ad dari nabi shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda:
“Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan sesuatu yang apabila ditimpakan kesulitan pada seseorang, kemudian dia berdoa yang dengannya Allah Azza wa Jalla akan lepaskan kesulitan itu darinya? Yakni doanya Dzunnun.” (Riwayat al-Hakim)

Dan di dalam Shahih al-Hakim juga, masih dari hadits Sa’ad bahwasanya dia mendengar nabi shallallahu’alaihi wasallam ketika beliau bersabda:
“Maukah aku tunjukkan pada kalian nama Allah yang paling agung? Yakni doanya nabi Yunus ‘alaihissalam.” Berkata seseorang, “Wahai Rasulullah, bukankah doa itu khusus untuk nabi yunus ‘alaihissalam?” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kami telah memperkenankan doanya Yunus dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan juga orang-orang mukmin.” (al-Anbiyaa’: 88)
Nabi shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan sabdanya, “Maka siapapun dari kalangan kaum muslimin yang berdoa denganya dalam sakitnya selama 40 kali kemudian dia meninggal dalam sakitnya itu maka akan diberikan pahala syahid, namun jika dia sembuh akan diampuni dosanya.” (Riwayat Hakim)

Dan di dalam Shahihain dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasanya tatkala Rasulullah shallallahualaihi wasallam tengah dirundung kesedihan yang mendalam (kesusahan), beliau mengucapkan (dalam doanya):

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ اْلأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمُ

“Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Bijaksana. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, Rabb yang menguasai arasy lagi Maha Agung. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, Rabb yang menguasai langit, Rabb yang menguasai bumi, dan Rabb Yang menguasai arasy lagi Maha Mulia.” (HR. Al-Bukhari 7/154, Muslim 4/2092)

Dan di dalam Musnad Imam Ahmad dari hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengajariku apabila tengah dirundung kesedihan yang mendalam (kesusahan) untuk mengucapkan (dalam doanya):

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ، سُبْحَنَانَ اللهُ وَتَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Maha Suci Allah, Rabb yang menguasai arasy lagi Maha Agung. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (Riwayat Ahmad)

Dan di dalam Musnad Imam Ahmad juga dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah seseorang tertimpa satu kesusahan, tidak pula kesedihan, lantas kemudian dia mengucapkan (dalam doanya),

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ

‘Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadha-Mu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.’
Kecuali akan Allah Azza wa Jalla hilangkan kesusahannya dan kesedihannya, kemudian Dia ganti suasana sedihnya dengan kebahagaiaan.”
Maka dikatakan, “Wahai Rasulullah, bukankah kita harus mempelajarinya?” Rasul shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “Bahkan seharusnya bagi orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.” (HR. Ahmad 1/391. Menurut pendapat Al-Albani, hadits tersebut adalah sahih)

Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Tidaklah seorang nabi dari para nabi ditimpa kesulitan kecuali mengadu (berdoa) dengan bertasbih (mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala).”

Al-Imam Ibnu Abid Dunya menyebutkan dalam kitab Mujabiyyin dan dalam kisah orang yang berdoa dalam atsar yang driwayatkan dari al-Hasan:
“Diriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Anshar yang dijuluki Abu Mughliq radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang yang memperdagangkan barang miliknya dan milik orang lain yang dijajakan di penjuru daerah. Dia juga seorang ahli ibadah dan wara. Suatu ketika, dia keluar dan bertemu dengan perampok bertopeng yang membawa pedang. Lantas perampok berkata, “Letakkan harta yang kamu bawa. Sungguh, saya akan membunuhmu.”
Dia berkata, “Sepertinya yang kamu inginkan hanyalah darahku, bagaimana hartaku?”
Perampok berkata, “Hartamu menjadi milikku. Saya hanya ingin darahmu.”
Dia berkata, “Jika kamu masih memaksa, tolong biarkan aku melaksanakan shalat empat rekaat terlebih dahulu.”
Perampok berkata, “Baiklah. Terserah kamu.”
Lalu dia berwudhu dan melakukan shalat empat rakaat. Doa yang dibaca di akhir sujud ialah:

يَا وَدُودُ يَا وَدُودُ، يَا ذَالْعَرْشِ الْمَجِيدُ، يَا فَعَّالَا لِماَ يُرِيدُ، أَسْأَلُكَ بِعِزِّكَ الَّذِي لَا يُرَامُ، وَبِمِلْكِكَ الَّذِي لَا يُضَامُ، وَبِنُورِكَ الَّذِي مَلَأ َأَرْكَانُ عَرْشِكَ: أَن تَكْفِيَنِي شَرَّ هَذَ الِلُصِّ: يَا مُغِثُ أَغِثْنِي يَا مُغِثُ أَغِثْنِي يَا مُغِثُ أَغِثْنِي

“Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Memiliki Arsy lagi Maha Mulia, Dzat Yang Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki! Saya memohon kepada-Mu dengan kemuliaan-MU yang tidak dapat dijangkau, dengan kerajaan-Mu yang tidak dapat ditundukkan, dengan cahaya-Mu yang memenuhi pilar-pilar ‘arsy-Mu agar Engkau menghindarkan kejahatan perampok ini pada diriku. Wahai Dzat Yang Maha Menolong! Tolonglah aku. (Sebanyak tiga kali)”
Tiba-tiba datang seorang berkuda yang membawa mata tombak di tangannya. Dia meletakkannya di antara kedua telinga kudanya. Ketika dia melihat si perampok, maka dia menghadap ke arahnya, lalu menusuknya hingga mati. Kemudian penunggang kuda menghadap ke arah pedagang yang wara dan ahli ibadah ini. Dia berkata kepada si pedagang, “Bangunlah!”
Lalu pedagang berkata, “Engkau siapa? Demi ayah dan ibuku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menolongku melalui engkau hari ini.”
Dia menjawab, “Aku adalah malaikat dari langit keempat. Tadi ketika engkau memanjatkan doa yang kali pertama, lalu aku mendengar gemertaknya pintu-pintu langit. Kemudian engkau memanjatkan doa kedua kali, lalu aku mendengar suara gaduh para penduduk langit. Selanjutnya engkau memanjatkan doa ketiga kalinya, lalu dikatakan kepadaku, ‘Doa orang yang mengalami kesulitan.’ Lantas aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kepercayaan kepadaku untuk membunuhnya.”
Berkata Hasan al-Bashri, “Barangsiapa berwudhu dan melaksanakan shalat empat rakaat, lalu memanjatkan doa ini, pastilah doanya dikabulkan, baik dia dalam kesulitan atau tidak.”

Tamat

(Dinukil dari kitab ad-Da`u wad Dawa` aw al-Jawabul Kaafi, Penulis al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hal. 10-14)

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Ad Dau wad Dawa, Jawabul Kafi, TAZKIYATUN NUFUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image