Kuburan Nabi, Para Wali, dan Orang Shalih Tidak Boleh Dijadikan Sebagai Tempat Ibadah

asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi

Imam Muslim meriwayatkan dari Jundub bin Abdullah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda lima hari sebelum beliau meninggal dunia :
“Sungguh, Aku berlepas diri kepada Allah dari anggapan bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara kalian, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Ia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya, seandainya aku menjadikan seorang khalil dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai khalil (kekasihku yang mulia). Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah, dan ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu”. (Riwayat Muslim no. 532 dalam point Masjid dan Tempat Shalat, Bab: Larangan Membangun Masjid di Kuburan)

Jundub bin Abdullah memiliki nama lengkap Jundub bin Abdullah bin Sufyan al-Bajaliy, dengan kun-yah Abu Abdillah radhiyallahu’anhu. Ia wafat dalam usia 60 tahun.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di akhir hayatnya -sebagaimana dalam hadits Jundub- telah melarang umatnya untuk tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian ketika dalam keadaan hendak diambil nyawanya –sebagaimana dalam hadits Aisyah- beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu, dan sholat di sisinya termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, walaupun tidak dijadikan bangunan masjid, dan inilah maksud dari kata-kata Aisyah radhiyallahu’anha: “Dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.”
Dan para sahabat pun belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) disekitar kuburan beliau.

Penjelasan per-kata

Lima hari : artinya lima malam
Berlepas diri : yakni menolak dan mengingkari
Khalil : kekasih yang mulia
Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya : yakni maka tidak halal di hatiku untuk mencintai selain-Nya
Maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai khalil : Abu Bakar radhiyallahu’anhu memiliki nama lengkap Abdullah bin Utsman, ia adalah manusia yang paling utama setelah para nabi dan Rasul, orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki, sekaligus khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam
Telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah: yakni telah dibangun di atas kuburannya tempat untuk ibadah atau shalat di sisinya

Penjelasan global

Jundub bin Abdullah radhiyallahu’anhu mengabarkan kepada kita bahwasanya tatkala Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelang wafat menafikan kalau beliau memiliki khalil dari kalangan makhluk. Yang demikian itu dikarenakan qalbu beliau shallallahu’alaihi wasallam dipenuhi kecintaan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dipenuhinya qalbu bapak moyang beliau sebelumnya, Ibrahim ‘alaihissalam.

Kemudian menjelaskan bahwasanya kalaulah beliau shallallahu’alaihi wasallam hendak menjadikan khalil dari kalangan makhluk niscaya yang pertama kali dijadikan khalil adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, dikarenakan beliau radhiyallahu’anhu memiliki keutamaan dalam perjuangan dakwah dan yang paling dekat dengan Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Tatkala Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengetahui bahwasanya para shahabat ridhwanullahu ‘alahim ajma’in mencintai beliau shallallahu’alaihi wasallam dan mengikuti jejak beliau shallallahu’alaihi wasallam atas diri-diri mereka, beliau shallallahu’alaihi wasallam mengkhawatirkan mereka akan membangun di atas kuburan beliau shallallahu’alaihi wasallam tempat ibadah sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashara pada kuburan nabi-nabi mereka.

Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang dari menjadikan tempat ibadah di atas kuburan, terlebih di atas kuburan Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Faidah hadits ini

1. Penetapan kecintaan Nabi shallallahu’alaihi wasallam kepada Allah Azza wa Jalla
2. Penetapan shifat Allah al-Mahabbah (Allah Maha Mencintai)
3. Penetapan kecintaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah Azza wa Jalla
4. Penjelasan akan keutamaan Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu sekaligus sebagai isyarat atas berhaknya beliau memegang khilafah karena beliau adalah manusia yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam kemuliaan
5. Bahwasanya membangun kuburan berasal dari kebiasaan orang-orang yahudi dan nasrani.
6. Larangan menjadikan tempat ibadah di atas kuburan
7. Wajibnya bersikap keras dalam mengingkari kesyirikan

Hadits ini sebagai dalil atas haramnya membangun masjid di atas kuburan dan beribadah kepada Allah Ta’ala di sana, lantas bagaimana mungkin untuk beribadah kepada penghuni kubur?!

Hadits ini juga sebagai dalil atas tahdzir (peringatan) dari membangun masjid (atau menyediakan tempat ibadah) di atas kuburan karena yang demikian itu merupakan bentuk pengagungan kepada penghuninya. Adapun pengagungan adalah bentuk ibadah, kapan memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala maka ia telah terjatuh ke dalam kesyirikan.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Penulis asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi, hal. 187-190]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image