Antara Doa Dengan Takdir: Apakah Doa Bisa Merubah Takdir?

al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah

Di sana ada perkara yang cukup masyhur, yakni bahwasanya apa yang dia minta dalam doanya itu sekiranya sudah ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla pastilah akan terjadi, sama saja apakah hamba itu berdoa ataukah ia tidak berdoa. Demikian pula sekiranya tidak ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla pastilah tidak akan terjadi, sama saja apakah hamba itu meminta kepada Allah Azza wa Jalla ataukah ia tidak memintanya.

Sekelompok orang beranggapan perkara ini adalah benar. Maka merekapun meninggalkan doa (tidak mau lagi berdoa) sembari mengatakan: “Doa itu tidak ada faidahnya.”

Mereka ini -dikarenakan kebodohan mereka yang sangat bodoh dan kesesatan mereka yang sangat sesat-, mereka ini kontradiksi dikarenakan sesungguhnya apabila nenggunakan madzhab mereka (pola pikir mereka seperti di atas) akan menggugurkan seluruh sebab-sebab yang berlaku di alam ini.

Maka katakanlah kepada salah seorang dari mereka: “Sekiranya kenyang dan lepas dahaga itu telah ditakdirkan untukmu pastilah keduanya akan dirasakan, apakah engkau makan atau engkau tidak makan. Namun jika tidak ditakdirkan pastilah keduanya tidak akan dirasakan, apakah engkau makan atau engkau tidak makan. Sekiranya anak telah ditakdirkan untukmu pastilah engkau akan punya anak, apakah engkau menggauli istrimu atau tidak, istrimu pasti akan hamil dengan sendirinya. Namun jika tidak ditakdirkan pastilah tidak akan terjadi. Kalau memang demikian maka tidak butuh menikah, demikianlah seterusnya.

Apakah mungkin seorang yang berakal atau anak adam akan berpendapat demikian? Bahkan hewan saja mereka diletakkan fitrahnya untuk melakukan sebab-sebab yang dengannya menjadi penopang hidupnya dan keberlangsungan hidupnya. Kalau begitu hewan lebih berakal dan lebih paham dari mereka yang pikirannya seperti hewan ternak bahkan lebih sesat jalannya.

Ada lagi orang yang merasa lebih pinter, sebagian mereka berkata: Menyibukkan diri dengan berdoa merupakan ibadah mahdhah semata yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pahala kepada orang yang berdoa itu meskipun doanya tidak ada pengaruh terhadap apa yang dia minta dari segala sisi. Tidak ada perbedaan -menurut mereka yang merasa lebih pinter ini- antara berdoa atau menahan diri dari berdoa, baik dengan qalbu maupun lisan dalam memberikan pengaruh terhadap apa yang diinginkan. Keterkaitan antara doa -menurut mereka- dengan diam (tidak berdoa) adalah sama saja, tidak ada bedanya.

Berkata sekelompok yang lain yang merasa jauh lebih pinter dari mereka ini: Bahkan berdoa itu adalah tanda yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan sebagai indikasi untuk ditunaikan hajat (kebutuhan) hamba tersebut. Maka kapan seorang hamba diberikan taufiq untuk ia berdoa, itu adalah tanda baginya yang menunjukkan bahwa kebutuhannya akan ditunaikan. Hal ini sebagaimana engkau melihat mendung yang hitam di musim yang dingin maka yang demikian itu sebagai tanda yang menunjukkan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Mereka juga berkata: Demikianlah hukum ketaatan terhadap pahala, kekafiran dan kemaksiatan terhadap siksa, yang merupakan indikasi semata untuk terjadinya pahala dan siksa, bukan merupakan sebab yang membawa kepadanya. Demikian pula menurut mereka permasalahan memecahkan disertai terpecahnya sesuatu, permasalahan membakar dan terbakat, keributan dan berakhir dengan pembunuhan, tidaklah menjadi sebab yang membawa akibat, ini hanya sekedar tanda.

Ini semua menyelisihi indera dan akal, menyelisihi syariat dan fitrah, dan menyelisihi seluruh mereka yang berakal. Bahkan pendapat ini ditertawakan oleh mereka yang berakal.

Inilah tiga pendapat yang menyimpang di atas:
1. Doa itu tidak ada faidahnya.
2. Doa itu sekedar ibadah semata, namun tidak mengubah takdir sama sekali.
3. Doa itu hanya sebagai tanda terhadap takdir. Allah Ta’ala akan mentakdirkan dia berdoa kalau memang dia diakdirkan akan mendapat sesuatu, kalau dia tidak ditakdirkan mendapatkan sesuatu maka ia tidak akan ditakdirkan berdoa.

Pendapat yang benar adalah: Pendapat yang bukan dari ketiganya, yakni bahwasanya yang ditakdirkan ini telah ditakdirkan melalui sebab-sebab, dan termasuk dari sebabnya adalah karena doa (disebabkan karena doa).

Maka tidaklah perkara yang ditakdirkan itu ditentukan tanpa sebab, akan tetapi perkara itu ditakdirkan karena ada sebabnya. Maka kapan seorang hamba mendatangkan sebabnya maka yang ditakdirkan itu terjadi dengan izin Allah Azza wa Jalla, dan kapan ia tidak mendatangkan sebabnya maka yang ditakdirkan itu akan lenyap (tidak akan terjadi). Hal ini sebagaimana ditakdirkannya rasa kenyang dan lepas dahaga dengan sebab makan dan minum, ditakdirkan adanya anak dengan sebab jima’, ditakdirkan tumbuhnya tanaman dengan sebab benih yang ditabur, ditakdirkan meregangnya nyawa hewan dengan sebab disembelih, demikian juga ditakdirkan masuknya surga dengan sebab amalan shalih dan masuknya neraka dengan sebab amalan thalih.
Inilah pendapat yang haq (benar). Inilah yang tidak dipahami oleh mereka lagi tidak diberi taufiq tentangnya.

Demikianlah, maka doa termasuk sebab yang paling kuat. Maka apabila ditakdirkan, itu disebabkan kuatnya orang yang berdoa ini dalam doanya. Maka tidak benar pendapat mereka yang mengatakan doa itu tidak ada faidahnya. Sebagaimana juga tidak bisa dikatakan makan dan minum itu tidak ada faidahnya, jima’ itu tidak ada faidahnya, amalan tidak ada faidahnya.

Tiada sesuatupun sebab yang lebih bermanfaat ketimbang doa, dan tiada yang lebih menyampaikan kepada tujuan ketimbang doa.

(Dinukil dari kitab ad-Da`u wad Dawa` aw al-Jawabul Kaafi, Penulis al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hal. 14-16)

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Ad Dau wad Dawa, Jawabul Kafi, TAZKIYATUN NUFUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image