Hukuman Mati Bagi Para Tukang Sihir, Dukun, Paranormal, dan Yang Semakna Dengannya (Bagian 1)

asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi

Bagian 1

Diriwayatkan dari Jundub bin Ka’ab al-Azdi bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda dalam hadits marfu’ :

حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ

“Hukuman bagi para tukang sihir adalah dipenggal lehernya dengan pedang” (Riwayat Tirmidzi 1460 dan ia berkata ini hadits mauquf, juga diriwayatkan al-Hakim 4/360)

Penjelasan per-kata

Hukuman bagi para tukang sihir : hukuman di dunia yang termaktub dalam syariat Islam bagi para tukang sihir, dukun, paranormal, dan yang semakna dengannya.
Dipenggal lehernya dengan pedang : yakni hukuman mati.

Penjelasan global

Tatkala diketahui bahwasanya sihir dan perdukunan merupakan penyakit meresahkan masyarakat yang berbahaya, manakala didiamkan akan menimbulkan kerusakan yang menyebar dan keburukan yang merajalela berupa pembunuhan (dengan santet atau teluh), mengambil harta dengan cara yang batil (dengan babi ngepet, tuyul, pesugihan, atau kasus dukun menipu pasiennya), memisahkan pasangan suami istri (dengan guna-guna), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hukuman yang tepat untuknya dengan satu kata: yakni HUKUMAN MATI. Dengannya masyarakat menjadi tenang dan suasana menjadi kondusif apabila menerapkan syariat Islam.

Faidah hadits ini

1. Haramnya mempelajari ilmu sihir (perdukunan, santet, teluh, hipnotis, mentalist, magic, pesugihan, dan ilmu sihir lainnya), haram pula mengajarkannya.
2. Hukuman dalam syariat Islam bagi para tukang sihir, dukun, paranormal, dan yang semakna dengannya adalah hukuman mati dengan cara dipenggal lehernya dengan pedang.

Hadits ini sebagai dalil atas hukuman dalam syariat Islam bagi para tukang sihir, dukun, paranormal, dan yang semakna dengannya adalah hukuman mati. Hadits ini juga menjadi dalil atas haramnya mempelajari ilmu sihir dan perdukunan dengan segala macam bentuknya, haram pula mengajarkannya.

Haramnya sihir dikarenakan bahwasanya sihir itu dibangun di atas kesyirikan (seseorang bisa mempraktikkan sihir dengan syarat ia pasti berbuat syirik).

[Dinukil dari kitab al-Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Penulis asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi, hal. 226-227]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image