Sebab Yang Baik Akan Mendatangkan Kebaikan Demikian Pula Sebab Yang Buruk Akan Mendatangkan Keburukan

al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah

Akal, nukilan wahyu, dan ftrah, serta pengalaman umat-umat manusia dengan berbagai jenis kelamin, agama, dan alirannya, semuanya menunjukkan bahwasanya bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabbul ‘alamin dan mencari keridhaan-Nya serta berbuat kebaikan kepada makhluk-Nya termasuk sebab yang paling besar untuk mengundang segala kebaikan. Dan kebalikan dari itu semua termasuk sebab yang paling besar untuk mengundang segala keburukan. Dan tidaklah engkau dapat menggapai kenikmatan Allah Ta’ala dan menolak siksa-Nya yang melebihi seperti ketaatan kepada-Nya, demikian pula dengan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada serta berbuat baik kepada makhluk-Nya.

Allah Ta’ala telah menghimpuan raihan berbagai kebaikan di dunia dan akhirat, dan menghimpun raihan keburukan di dunia dan akhirat dalam kitab-Nya tergantung dengan amalan-amalan seorang hamba. Balasan itu tergantung dengan syarat yang telah dipenuhi, akibat tergantung adanya sebab, dan sesuatu yang disebabkan itu tergantung atas keberadaan sebabnya. Perkara ini di dalam al-Quran melebihi 1000 tempat.

Maka terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun hukum berita yang ada di alam ini ataupun perintah syar’i sesuai dengan sifat yang mencocokinya (yakni balasan yang pantas akibat amalannya). Seperti firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina”.” (al-A’raaf: 166)

Dan firman-Nya:

فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ

“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),” (az-Zukhruf: 55)

Dan firman-Nya:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Maaidah: 38)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Dan yang seperti ini terlalu banyak di dalam al-Quran

Dan terkadang Allah Tabaroka wa Ta’ala menghimpun di atasnya dengan bentuk kata syarat dan balasannya (yakni jika ada syarat yang dipenuhi maka akan ada balasan yang dipenuhi pula).
Seperti firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Anfaal: 29)

Dan firman-Nya:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertobat, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (at-Taubah: 11)

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

“Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (al-Jin: 16)

Demikian pula ayat-ayat yang semisalnya.

Dan terkadang Allah Ta’ala mendatangkan “Lam at Ta’lil” (huruf lam yang menunjukkan sebagai sebab sesuatu).
Seperti firman Allah Ta’ala:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)

Dan firman-Nya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (al-Baqarah: 143)

Dan seterusnya….

Secara global, maka al-Quran dari awalnya sampai akhirnya sangat jelas dalam meletakkan sebuah balasan kebaikan ataupun balasan keburukan, demikian pula hukum-hukum kauniyah dan hukum-hukum perintah itu berdasarkan sebab-sebab. Bahkan meletakkan hukum-hukum dunia dan hukum-hukum akhirat, kemashalatan pada keduanya, dan kerusakan pada keduanya, berdasarkan sebab-sebab dan perbuatan hamba.

Maka barangsiapa yang mau memahami masalah ini dan memperhatikan dengan sebenar-benarnya, ia akan mendapati kemanfaatan dengannya yang sangat luar biasa. Dan ia tidak akan bergantung hanya pada takdir karena kebodohannya, kelemahannya, tafrith (sifatnya yang meremehkan), dan menyia-nyiakan. Sehingga menjadikan bentuk tawakalnya itu sebagai kelemahan (pasrah pada nasib, ia tidak mau berusaha), dan akhirnya kelemahannya itulah yang akan menjadi tawakalnya.

Orang yang benar-benar faqih (mengerti) itu menginginkan takdir dengan yang ditakdirkan, menghindari takdir dengan yang ditakdirkan, melawan takdir dengan yang ditakdirkan. Bahkan manusia tidak mungkin bisa hidup kecuali dengan cara yang demikian (tidak pasrah dengan nasib, akan tetapi melakukan usaha yang bisa mengubah nasib menjadi lebih baik)
Sesungguhnya rasa lapar, haus, dingin, dan berbagai rasa takut dan kekhawatiran itu bagian dari takdir. Dan semua makhluk sedang berusaha untuk menolak takdir ini dengan takdirnya yang lain.

Demikian pula orang yang Allah Ta’ala beri taufiq dan hikmah dengan memberinya petunjuk, mereka menolak takdir siksa di akhirat kelak dengan takdir ia bertaubat, beriman, dan beramal shalih. Inilah timbangan takdir yang dikhawatirkan ketika di dunia, dan kebalikan dari itu juga sama (maka semua takdir yang buruk kita lawan dengan takdir yang baik)
Maka Rabb dunia dan akhirat itu satu, hikmah Allah Ta’ala juga satu (hikmah di dunia sama seperti hikmah di akhirat), yang tidak berlawanan antara yang satu dengan yang lain, juga tidak menggugurkan antara yang satu dengan yang lain.

Perkara ini termasuk dari perkara-perkara yang sangat mulia bagi orang yang mengerti tentang nilainya dan mau meresapinya dengan sebaik-baiknya.

Wallahul musta’an.

(Dinukil dari kitab ad-Da`u wad Dawa` aw al-Jawabul Kaafi, Penulis al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hal. 17-19)

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Ad Dau wad Dawa, Jawabul Kafi, TAZKIYATUN NUFUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image