Tidak Boleh Mengurungkan Hajat Karena Menganggap Sial Sesuatu

asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang thiyarah mengurungkan dia dari hajatnya maka ia telah berbuat syirik”, Para shahabat bertanya, “Lalu apa kaffarahnya?”, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, ”Hendaknya ia berdoa,

اَللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا غَيْرُكَ

“Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, dan tiada kesialan kecuali kesialan dari-Mu, dan tiada sesembahan kecuali Engkau.” (Riwayat Ahmad dalam Musnadnya, 2/220. Dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullah)

Penjelasan per-kata

  • Mengurungkan: yakni menahan (tidak jadi melakukannya).
  • Thiyarah: yakni menganggap sial karena mendengar sesuatu atau melihat sesuatu (menganggap sial hari tertentu, tanggal tertentu, bulan tertentu, berdasarkan hitungan atau primbon yang sama sekali bukan dari tuntunan Islam).
  • Dari hajatnya: yakni keperluan yang akan dia lakukan.
  • Ia telah berbuat syirik: yakni mendatangkan kesyirikan manakala dia berkeyakinan bahwasanya thiyarah itu akan mengakibatkan keadaan menjadi baik atau buruk (beruntung atau sial).
  • Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu: yakni tiada yang menghantarkan kebaikan kecuali dari-Mu, bukan dari selain-Mu.
  • Dan tiada kesialan kecuali kesialan dari-Mu: yakni bahwasanya kesialan adalah milik-Mu (berasal dari-Mu). Sedangkan makhluk-Mu tidak bisa mendatangkan kebaikan dan tiada pula bisa menolak keburukan.
  • Penjelasan global

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkabarkan kepada kita dalam hadits ini bahwasanya barangsiapa yang anggapan sial menahannya dari hajat yang ingin dia lakukan, maka dia telah mendatangi jenis kesyirikan.
    Kemudian para shahabat radhiyallahu ‘anhum menanyakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaffarah dosa besar ini, lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing mereka (dan tentu kepada umatnya) kepada sebuah doa yang mulia untuk menyerahkan semua urusannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan menafikan kekuasaan dari selain-Nya.

    Faidah hadits ini

    1. Penetapan syirik bagi siapa yang anggapan sial mengurungkan dia dari hajatnya.
    2. Diterimanya taubat seorang yang melakukan kesyirikan.
    3. Bimbingan tentang apa yang hendaknya diucapkan (doa) bagi siapa yang diuji dengan tathayyur.
    4. Bahwasanya kebaikan dan keburukan adalah hak preogratif Allah Ta’ala.

    Hadits ini menunjukkan atas syiriknya bagi siapa yang anggapan sial menahannya dari hajat yang ingin dia lakukan.

    [Dinukil dari kitab al-Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Penulis asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi, hal. 261-262]

    Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

    Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

    Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    KALENDER HIJRIAH

    "Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

    :: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

    Radio Sunniy Salafy

    Kategori
    Permata Salaf

    image