Kebodohan Akan Menghalangi Seseorang Untuk Menerima Kebenaran

asy-Syaikh Hamd bin Ibrahim al-Utsman

al-Haq (kebenaran) itu begitu gamblang lagi jelas, firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar: 17)

Maka Allah Ta’ala mudahkan lafazhnya untuk bisa dibaca, dan maknanya bisa dipahami.

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar).” (Muttafaqun’alaih dari hadits Nu’man bin Basyir Radhiallahu’anhu)

Dan telah sepakat para ulama ahlussunnah akan ushul (perkara pokok) ini. (Taudhih al-Kaafiyatusy Syaafiyah, hal 79)

Oleh karena itu kebathilan akan masuk kepada orang yang tidak berilmu tentangnya, juga kepada orang yang tidak mengetahui bahwa itu bathil, juga kepada orang yang tidak ada upaya mencari tahu dengan nash-nash al-Quran dan as-Sunnah, ucapan shahabat, dan tabi’in.

Berkata Imam Ahmad Rahimahullah,

“Sesungguhnya perseilihan akan datang kepada orang-orang yang berselisih, karena sedikitnya pengetahuan mereka terhadap apa-apa yang datang dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam.” (I’laamul Muwaqi’iin, 1/44)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

“al-Haq itu (kebenaran) telah diketahui oleh setiap orang, karena sesungguhnya dengan al haq itulah Allah Ta’ala mengutus para Rasul ‘Alaihimus Salam. al-Haq itu tidak serupa dengan selainnya bagi al-’Aaraf (orang-orang yang berpengetahuan) sebagaimana emas murni tidak serupa dengan emas yang sudah bercampur dengan perak.” (Majmu’ al-Fatawa, 27/312-315)

Dan beliau juga berkata,

“Sesungguhnya asy-syaari’ (Rasulullah) Shallallahu’alaihi wasallam telah menyampaikan setiap apa-apa yang bisa menjadi pegangan dari kebinasaan-kebinasaan dengan penyampaian yang memutuskan (tidak ada alasan) bagi orang yang mencari udzur.” (Dar-u Ta’aaridhul ‘Aqlu wan Naqlu, 1/73)

Dan beliau juga berkata,

“al-Haq itu banyak ditolak oleh orang yang bodoh lagi buta huruf.” (Majmu’ al-Fatawa, 25/129)

Berkata asy-Syaukani Rahimahullah,

“Condong membela ucapan-ucapan bathil bukanlah dari kebiasaan ahlut tahqiq (orang yang mencari kebenaran), yang mereka memiliki kesempurnaan pengetahuan, pemahaman yang kuat, memiliki istinbath, dan bisa membedakan mana yang shahih dari yang dhaif. Bahkan itu adalah kebiasaan orang yang tidak memiliki bashirah (pemahaman) yang benar, dan tidak memiliki pengetahuan yang bermanfaat.” (Adab ath-Thalab wa Muntahal Arab, hal. 40)

Bahkan sampai-sampai madzhab Rafidhah yang diada-adakan oleh Abdullah bin Saba’ al-Yahudi -inilah madzhab yang paling sesat- bisa masuk atas sebagian kaum Muslimin disebabkan kebodohannya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

“Sesungguhnya orang yang mengada-adakan madzhab Rafidhah adalah seorang zindiq, mulhid, memusuhi Islam dan kaum Muslimin. Rafidhah bukanlah dari ahlul bid’ah yang suka mentakwil seperti Khawarij dan Qadariyah (bahkan Rafidhah sudah keluar dari Islam). Ucapan-ucapan Rafidhah itu masuk setelah itu atas sebuah kaum karena mereka terlalu bodoh.” (Minhajus Sunnah, 4/363)

Berkata Ibnul Qayyim al-Jauziyyah,

“Sebab-sebab yang mencegah seseorang dari menerima al-haq (kebenaran) banyak sekali. Di antaranya adalah karena kebodohannya, inilah yang menimpa kebanyakan orang. Sesungguhnya barangsiapa yang bodoh terhadap sesuatu, maka dia akan memusuhinya dan memusuhi orang yang berpegang dengannya.” (Hidayatul Khuyara fii Ajwabatil Yahudi wan Nashara, hal. 18)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

“Tidaklah didapatkan pada seseorang yang terjerumus ke dalam bid’ah kecuali karena sedikitnya dia dalam mengikuti sunnah, baik ilmu maupun amalan. Sebaliknya, barangsiapa yang berilmu dan dia ittiba’ (mengikuti sunnah), niscaya tiada pada dirinya ajakan kepada bid’ah. Karena sesungguhnya bid’ah akan menimpa orang yang bodoh tentang sunnah.” (Syarhu Hadits “Laa Yaznii az Zaanii” hal. 35)

Barangsiapa yg tidak mau mengangkat kebodohan dari dirinya, maka tidak diterima udzurnya karena kebodohan (bodoh tidak dapat dijadikan udzur).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

“Telah pasti celaan bagi orang yang telah jelas baginya kebenaran lalu dia meninggalkannya, atau bagi orang yang sedikit mencari kebenaran yang akibatnya dia tidak paham, atau berpaling dari mencari pengetahuan karena hawa nafsunya, atau karena malas, atau yang semisalnya.” (Iqtidha ash-shirathal Mustaqim, 2/85)

Berkata al-Allamah Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah,

“Barangsiapa yang rela dengan kebid’ahannya, berpaling dari mencari dalil-dalil syar’i, dan tidak mencari jawaban dari ulama yang bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil, membantah apa-apa yang datang dari al-Quran dan as-Sunnah bersamaan dengan kebodohannya dan kesesatannya, dan berkeyakinan bahwa dia di atas kebenaran, maka ini zhalim dan fasiq, dengan cukup dia meninggalkan jawaban Allah Subhanahu wata’ala atasnya dan menerobos apa-apa yang diharamkan Allah Ta’ala.” (Irsyaadu Ulil Bashaair wal Albaab, hal. 300)

Berkata al-Walid al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah,

“Sungguh tidak ada udzur bagi insan yang bodoh, itu jika memungkinkan dia untuk belajar. Dia tidak melaksanakan (suatu syariat) karena adanya syubhat, sebagaimana dikatakan kepada seseorang, ‘Ini haram.’ Sementara dia meyakininya halal. Tatkala ada syubhat atas ucapannya, hendaknya dia terus taklim hingga jelasnya hukumnya dengan yakin. Maka ini terkadang tidak ada udzur dengan kebodohannya, karena dia tafrith (meremehkan) tidak mau taklim (belajar). Dan sifat tafrith tidak mendapatkan udzur. Namun barangsiapa yang betul-betul bodoh dan tiada syubhat padanya, dan berkeyakinan bahwa dia di atas kebenaran atau mengatakan bahwa dia di atas kebenaran, maka ini tidak ragu bahwa dia tidak menginginkan mukhalifah (penentangan), dan tidak menginginkan maksiat serta tidak menginginkan kekufuran, maka tidak mungkin mengkafirkannya walaupun dia bodoh dalam perkara pokok dari pokok-pokok agama.” (Syarhul Mumthi’, 6/193-194)

[Dinukil dari Kitab Shawaarifu ‘anil Haq, Penulis asy-Syaikh Hamd bin Ibrahim al-Utsman, Hal. 9-12]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Manhaj As Salafus Shalih, Shawarif 'anil Haq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image