Barangsiapa Yang Mendatangi Dukun Maka Ia sama Saja Mengingkari al-Quran dan as-Sunnah

asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu dia mempercayai apa-apa yang dikatakan maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani dalam Al-Irwa` no. 2006)

Penjelasan per-kata

Dukun : yakni orang yang mengaku mengetahu perkara yang akan datang (rejeki, jodoh, nasib, dll)
Maka sungguh dia telah kufur : dikatakan oleh para ulama maksudnya adalah kufur duna kufrin, yakni kufur namun tidak mengeluarkannya dari keislaman. Dan juga dikatakan oleh para ulama maksudnya adalah mengingkari.
Apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam : yang dimaukan adalah diturunkannya al-Quran dan as-Sunnah.

Penjelasan global

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkabarkan dalam hadits ini bahwasanya barangsiapa yang mendatangi dukun lalu dia menanyakan sesuatu dari perkara ghaib lalu dia membenarkannya (mempercayainya) apa yang dukun katakan, maka sungguh dia telah mengingkari terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa al-Quran dan as-Sunnah.

Yang demikian itu dikarenakan al-Quran dan as-Sunnah telah menganggap dusta dukun-dukun, dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberi bagian dari ilmu ghaib kepada selain-Nya.

Faidah hadits ini

1. Haramnya praktik perdukunan.
2. Haramnya mempercayai dukun.
3. Bahwasanya mempercayai ucapan dukun teranggap kufur
4. Bahwasanya al-Quran itu diturunkan (kalamullah), bukan makhluk.

Hadits ini menunjukkan sikap yang tepat untuk mengingkari dukun-dukun, bahwasanya dukun-dukun itu kafir ketika amalannya itu menghantarkan kepada kesyirikan dalam praktik perdukunan mereka.

[Dinukil dari kitab al-Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Penulis asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi, hal. 239-240]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image