Posted on 19 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Buletin Islam Al Ilmu Jember
Ilmu kasyaf atau yang lebih dikenal dengan ilmu laduni (ilmu batin) tidaklah asing ditelinga kita, lebih – lebih lagi bagi siapa saja yang sangat erat hubungannya dengan tasawuf beserta tarekat-tarekatnya.
Kata sebagian orang: “Ilmu ini sangat langka dan sakral. Tak sembarang orang bisa meraihnya, kecuali para wali yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat. Sehingga jangan sembrono untuk buruk sangka, apalagi mengkritik wali-wali yang tingkah lakunya secara dhahir menyelisihi syariat.
Wali-wali atau gus-gus itu beda tingkatan dengan kita, mereka sudah sampai tingkatan ma’rifat yang tidak boleh ditimbang dengan timbangan syari’at lagi”. Benarkah demikian? Inilah topik yang kita kupas pada kajian kali ini.
Hakikat Ilmu Laduni
Kaum sufi telah memproklamirkan keistimewaan ilmu laduni. Ia merupakan ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan mujahadah, pembersihan dan pensucian hati akan terpancar nur dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk nabi Khidhir. Tidaklah bisa diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan, amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu.
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Doa dan Dzikir Shahih, Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah, Sufisme Tasawuf | Leave a Comment »
Posted on 19 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Di dekat rumah kami, ada sekelompok orang-orang shufi. Saya biasa datang ke sana untuk mengetahui lebih jauh dzikir yang mereka baca. Setelah sholat ‘Isya, orang-orang yang akan menyanyikan bait-bait lagu mulai berdatangan. Mereka semua tidak berjenggot dan menyenandungkan bait syair yang sama:
هات كاس الراح ### واسقنا الأقداح
Berilah kami segelas arak Berilah kami minuman arak
Mereka mengulang-ulang bait syair ini sambil menggoyang-goyangkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri. Pemimpin kelompok mereka mengulangi bait syair ini, kemudian diikuti oleh para pengikutnya. Sehingga mereka seperti kelompok paduan suara.
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Doa dan Dzikir Shahih, Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah, Sufisme Tasawuf | Leave a Comment »
Posted on 18 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
حقيقة الصوفية وموقف الصوفية من أصول العبادة والدين
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan
“Jika kita amati ajaran-ajaran tasauf dari generasi pertama hingga akhir serta ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam kitab-kitab tasauf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa disana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasauf dengan ajaran-ajaran Al-Quran dan Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya dalam sirah Rasulullah serta para shahabatnya yang mulia yang merupakan makhluk-makhluk Allah pilihan. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual Yahudi dan kezuhudan Budha” (Syaikh Ihsan Ilahi Zahir –rahimahullah- dalam kitabnya: Tashawwuf Al-Mansya’ Wal mashdar)
Download:
| Size: 154 kb
Mirror download
Ebook compiled by Akhukum fillah
Abu Harun as Salafy
DIarsipkan di bawah: INFO SUNNIY, Sufisme Tasawuf | Leave a Comment »
Posted on 17 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Di negeri Hijaz, Syam, Yaman, Irak, Mesir, dan Khurasan, tidak didapati seorang pun dari ahli kebaikan dan ulama berkumpul untuk mendengarkan acara-acara yang diadakan dalam rangka memperbaiki hati-hati manusia. Oleh karena itu perbuatan itu dibenci oleh para imam, seperti Imam Ahmad Rahimahullah dan imam-imam lainnya. Imam Asy Syafi’i Rahimahullah menganggap perbuatan itu sebagai perkara yang diada-adakan oleh para Zindiq, beliau berkata,
خلقت ببغداد شيئا أحدثه الزنادقة يسمونه التغبير يصدون به الناس عن القرآن
"Saya mendapati perkara yang diada-adakan para Zindiq di Baghdad, mereka menamainya dengan taghbir (berkumpul untuk dzikir berjamaah, menyanyi, dan menari) yang dengannya mereka menghalangi manusia dari al Quran."
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Doa dan Dzikir Shahih, Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah, Sufisme Tasawuf | Leave a Comment »
Posted on 17 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan
Mereka katakan bahwa semua itu adalah ibadah kepada Allah. Dr. Sobir Tu’aimah berkata dalam kitabnya: As-Sufiah Mu’taqadan wa Maslakan (Tasawuf, keyakinan dan jalan hidupnya):
“Tarian sufi telah menjadi ciri khas pada sebagian besar tarekat-tarekat tasawuf dalam berbagai kesempatan peringatan kelahiran tokoh-tokoh mereka, yaitu dengan berkumpulnya para pengikut tarekat tersebut untuk mendengarkan alunan suara musik yang keluar dari sekitar dua ratus orang pemusik, baik laki maupun wanita, sementara para pembesar duduk-duduk sambil menghisap berbagai macam rokok dan para pemimpin mereka serta para pengikutnya melakukan bacaan atas sebagian khurofat yang berkaitan orang-orang mati dikalangan mereka. Setelah berbagai penelitian, kami sampai pada kesimpulan bahwa penggunaan musik di kalangan tarekat tasawuf masa kini merujuk kepada apa yang disebut sebagai “Nyanyian kristiani hari Minggu“”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang awal mula timbulnya tasawuf serta sikap para ulama tentang hal tersebut dan apa saja yang mereka perbuat.
“Ketahuilah bahwa hal tersebut bukan muncul pada kurun tiga abad pertama yang terkenal utama, tidak di Hijaz [1] tidak juga di Syam [2], tidak di Yaman tidak juga di Mesir, tidak di Maroko tidak juga di Irak, tidak juga di Khurasan. Di negri-negri tersebut tidak ada –pada waktu itu- orang alim, shaleh, zuhud dan ahli ibadah yang berkumpul untuk mendengarkan tepuk tangan dan suara bersiul, dengan rebana atau dengan telapak tangan, tidak juga dengan potongan kayu. Akan tetapi semua itu terjadi di akhir abad ke tiga. Dan ketika para imam melihatnya, merekapun mengingkarinya.
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Doa dan Dzikir Shahih, Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah, Sufisme Tasawuf | Leave a Comment »
Posted on 16 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Di antara hal-hal yang seyogyanya diperhatikan secara seksama adalah bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam kitab-Nya,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31)
Generasi salaf berkata, "Di zaman nabi ada orang mengaku mencintai Allah, maka Allah menurunkan ayat ini."
Dia menjelaskan bahwa kecintaan-Nya diperoleh denan mengikuti Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam. mengikuti rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam akan menjadi penyebab kecintaan Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya. Ini adalah cinta, yang dengan cintai itu Allah Subhanahu wata’ala menguji orang-orang yang mengaku mencintai-Nya. Karena dalam perkara ini banyak orang-orang yang hanya mengaku-aku dan terjadi kesimpangsiuran. Oleh karena itu, diriwayatkan dari Dzin Nuun al Mishri bahwa mereka telah berbicara tentang permasalahan cinta di hadapannya maka beliau menimpali,
اسكتوا عن هذه المسالة لئلا تسمعها النفوس فتدعيها
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Doa dan Dzikir Shahih, Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah, Sufisme Tasawuf | Leave a Comment »
Posted on 16 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Jauh setelah masa mereka (generasi salaf), mulailah kelompok-kelompok ahli kalam dari kalangan Mu’tazilah dan kelompok-kelompok lain mengingkari masalah cinta ini. Sampai pada sebagian shufi muncullah orang-orang yang mencari alternatif lain untuk menggerakkan cinta ini dengan cara mendengar berbagai macam suara siulan dan tepuk tangan. Mereka memperdengarkan lantunan kata dan syair-syair yang berisi hal-hal yang konon dapat menggerakkan (membangkitkan) rasa cinta, menggerakkan setiap hati yang sedang memendam rasa cinta tersebut, yang mana hal itu pantas untuk diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang jatuh cnta kepada para pemimpin, salib, saudara, kampung halaman, anak-anak muda, para wanita, sebagaimana dendangan itu pantas pula disenandungkan oleh orang-orang yang mencintai Ar Rahman (Allah Subhanahu wata’ala). Akan tetapi masyayikh yang melaukan acara tersebut mensyaratkan tempat dan kesempatan (waktu) tertentu untuk memadu suara atau melantunkan syair-syair tersebut.
Terkadang mereka mensyaratkan seorang syaikh yang menjaganya dari kalangan syaithan kemudian orang-orang selain mereka berpanjang lebar membicara perkara ini, hingga mereka beralih kepada berbagai bentuk kemaksiatan bahkan kepada jenis kefasikan. Bahkan dalam hal ini beberapa kelompok (sekte) telah terjerumus dalam kekufuran yang nyata yang mana mereka berpura-pura menampakkan kecintaan dengan berbagai lantunan syair yang berisi ungkapan-ungkapan kekufuran dan penyimpangan dari nilai-nilai kebenaran, yang hal-hal itu merupakan bentuk-bentuk kerusakan yang paling besar. Hal itu disebabkan berbagai "ahwal" yang mereka miliki, sebagaimana "ahwal-ahwal" yang dimiliki oleh orang-orang musyrik dan ahli kitab pada peribadatan-peribadatan mereka.
Pandangan yang dipegang oleh para ahli tahqiq dari kalangan masyayikh yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh al junaid Rahimahullah,
من تكلف السماع فتن به ومن صادفه السماع استراح به
"Barangsiapa yang memberat-beratkan dirinya untuk mendengar (lantunan syair, dendangan qasidah, dll), maka dia akan terfitnah dengannya. Dan barangsiapa mendengarkan hal-hal itu secara tidak sengaja maka ia akan beristirahat dengannya."
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah, Sufisme Tasawuf | Leave a Comment »
Posted on 15 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
HADIRILAH!

Kajian Islam Ilmiah
Terbuka Untuk Umum
Al Ustadz Abdul Barr
Tema: Hak dan Kewajiban Seorang Muslim
Al Ustadz Qomar Suaidi, Lc.
Tema: Fiqh Pergaulan
Insya Allah akan diselenggarakan pada:
Sabtu–Ahad, 19 – 20 Desember 2009/ 2 – 3 Muharram 1431 Hijriyyah
Pukul 09.00 WIB – Selesai
Masjid Agung Al Ukhuwwah
Jl. Wastukencana No.27 Bandung 40117
Contact Person : 022-92373069; 0818 0653 7669; 022 7344434
NB: Bagi peserta kajian yang akan bermalam diharapkan membawa Identitas yang masih berlaku.
link pamflet daurohnya bisa dilihat di:
http://jalansunnah.files.wordpress.com/2009/12/flyer-kajian-ok-warna.jpg
DIarsipkan di bawah: INFO SUNNIY | Leave a Comment »
Posted on 5 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Perkataan penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
وَتَفَاصِيلِ ذَلِكَ مَذْكُورَةٌ فِي الْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ مِنَ السَّمَاءِ,
Dan perincian hal ini (tentang hari akhir) telah disebutkan dalam kitab-kitab yang diturunkan dari langit.
Yakni seperti Taurat, Injil, dan Suhuf Ibrahim dan Musa ‘Alaihimussalam dan selainnya dari kitab-kitab yang diturunkan dari langit. Dan hal ini telah disebutkan di sana dengan jelas dan rinci karena berhajatnya manusia, bahkan karena daruratnya kebutuhan mereka akan penjelasan dan perinciannya. Ketika tidak mungkin seseorang akan istiqamah kecuali dengan beriman dengan hari akhir yang akan dibalas di sana semua amalan kebaikan dan kejelakan.
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 4 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
وَأَمَّا الْكُفَّارُ; فَلَا يُحَاسَبُونَ مُحَاسَبَةَ مَنْ تُوزَنُ حَسَنَاتُهُ وَسِيئَاتُهُ; فَإِنَّهُ لَا حَسَنَاتِ لَهُمْ, وَلَكِنْ تُعَدُّ أَعْمَالُهُمْ, فَتُحْصَى فَيُوقَفُونَ عَلَيْهَا, وُيقَرَّرون بِهَا
Adapun orang kafir, maka mereka tidak akan dihisab yang ditimbang kebaikan dan kejelekannya, karena mereka itu tidak memiliki kebaikan. Akan tetapi perbuatan mereka itu akan dihitung, kemudian dikhabarkan tentang amalan mereka, mereka akan mengakuinya dan mereka akan dibalas atasnya
Yang demikian itu semakna dengan hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhu dari nabi Shalallahu’alaihi wasallam ketika beliau menyebutkan hisab Allah atas hamba-Nya yang mukmin, sesungguhnya Allah Azza wajalla akan bersendiri dengannya, dan mengungkapkan dosa-dosanya kepada hamba tersebut. Kemudian beliau berkata,
"Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka akan diseru di segenap makhluk: mereka itu adalah orang yang mendustakan Rabb mereka. ketahuilah laknat Allah itu atas orang-rang yang zhalim. (Muttafaqun ‘alaih)
Dan dalam shahih Muslim dari dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dalam hadits yang panjang dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata,
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 4 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
وَيَخْلُو بِعَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ, فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ
Dan Allah Azza wajalla akan bersendiri dengan hamba-Nya yang mukmin dan menanyakan kepadanya dosa-dosanya
Maka ini adalah sifat dari hisab. Allah Azza wajalla bersendirian dengan hamba-Nya yang mukmin tanpa ada seorangpun yang tahu. Allah Azza wajalla mengungkap dosa-dosa hamba dengan berkata, "Apakah engkau melakukan demikian? dan melakukan demikian?" Sampai hamba menyatakan dan mengakuinya. Kemudian Allah Azza wajalla berkata, "Sungguh Aku telah menutupi atasmu di dunia dan hari ini Aku mengampuninya untukmu." [1].
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 3 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Seperti yang disebutkan penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
وَيُحَاسِبُ اللَّهُ الْخَلَائِقَ
Allah Azza wajalla akan menghisab para makhluk
Hisab adalah ditampakkannya amalan-amalan hamba kepada-Nya pada hari kiamat. Dan sungguh al Quran dan as Sunnah, ijma’, dan akal telah menunjukkan hal ini.
Adapun dalam al Quran, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," (al Insyiqaaq: 7-8)
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا وَيَصْلَى سَعِيرًا
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 3 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Perkataan penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah): kholaiq, itu mencakup bangsa jin juga, karena mereka (bangsa jin) juga dibebani syari’at. Oleh karena itu orang kafir dari bangsa jin juga masuk neraka dengan dasar nash dan ijma’. Seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,
قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ فِي النَّارِ
"Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu." (al A’raaf: 38)
Maka kaum mukminin dari bangsa jin juga akan masuk surga berdasar perkataan jumhur ulama dan ini adalah pendapat yang shahih, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 2 Desember 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
دليل الحاج والمعتمر
Penulis:
Majmu’atu minal ‘Ulama (Kumpulan Ulama)
Diterbitkan dan Diedarkan Oleh:
Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Dakwah, dan Penyuluhan
bekerja sama dengan Panitia Penyebaran Penerbitan buku-buku agama bagi para Jamaah Haji dan Umrah
Urusan Penerbitan dan Penyebaran Kerajaan Arab Saudi
| Download (96 kb)
Mirror download
Yang kami harapkan adalah kesungguhan anda dalam memahami buku kecil ini sebelum melakukan amalan-amalan haji, agar anda dapat menunaikan kewajiban ibadah haji ini dengan penuh pemahaman.
Dan kami mengharapkan, agar anda memelihara buku ini sebagai bekal untuk tahun ini dan tahun berikutnya, apabila Allah menakdirkan anda untuk menunaikan ibadah haji lagi.
Ebook Compiled by Akhukum fillah
Abu Harun as Salafy
DIarsipkan di bawah: Doa dan Dzikir Shahih, Hidupkan Sunnah, INFO SUNNIY, Ilmu dan Ulama, Matikan Bid'ah, Potret Keluarga | Leave a Comment »
Posted on 24 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy

http://sunniy.wordpress.com
Offline on CHM – Versi 06 (318 Artikel)
Updated 04 Dzulhijjah 1430 H – 21/11/2009
Kuras habis seluruh artikel di blog ini [Menu Download tidak termasuk di dalamnya]
| Ebook arsip artikel sunniy.wordpress.com on CHM Versi 06 | 2.7 MB
Mirror download
Semoga bermanfaat
Ebook compiled by: Akhukum fillah Abu Harun as Salafy
http://sunniy.wordpress.com | Menebar Ilmu & Tegakkan Sunnah
تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلىَ الْيَبَسِ
Kau dambakan keselamatan tapi engkau tak menempuh jalurnya.
Sungguh bahtera tak kan pernah berlayar di daratan
DIarsipkan di bawah: Akhlak Salaf, Al Manhaj As Salafus Shalih, Aqidah Ahlus Sunnah, DAKWAH SALAFIYAH, Demokrasi dan Pemilu, Doa dan Dzikir Shahih, Firqah Hizbiyah, Hidupkan Sunnah, INFO SUNNIY, Ilmu dan Ulama, Jihad Fii Sabilillah, Kitab Riyadhus Shalihin, MAKTABAH SALAF, Matikan Bid'ah, Penegakan Khilafah, Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari, Potret Keluarga, RISALAH SUNNIY, Renungan Salaf, Syarah Aqidah Al Wasithiyah, TAZKIYATUN NUFUS, Urgensi Dakwah | Leave a Comment »
Posted on 18 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Kalau ada yang berkata: Mayit dikubur dalam lubang yang sempit, bagaimana bisa dilapangkan sejauh mata memandang?
Jawab:
Bahwasanya alam ghaib tidak bisa diqiyaskan dengan alam nyata, bahkan sesungguhnya kalau kita tetapkan bahwasanya seseorang mampu menggali lubang seluas sejauh mata memandang dan ditanam mayit di sana kemudian ditimbun tanah, maka orang yang tidak mengetahui lubang tersebut, apakah dia melihatnya ataukah tidak meihatnya? Tidak diragukan lagi niscaya dia melihatnya, padahal ini di alam nyata, akan tetapi dia tidak melihat luasnya demikian, tidak mengetahuinya kecuali orang yang menyaksikannya (sebelum ditimbun -pent)
[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh 'Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 54]
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 18 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Bila ada yang berkata: Kami melihat mayat orang kafir jika kita gali kuburnya setelah satu atau dua hari kita melihat tulang-tulangnya tidak berantakan dan tidak terpisah karena terhimpit?
Jawab:
Bahwasanya ini termasuk alam ghaib, boleh saja kita katakan tulangnya sebenarnya berantakan akan tetapi bila dibuka kubur tersebut Allah Subhanahu wata’ala kembalikan semua tulang pada tempatnya seperti semula sebagai ujian bagi hamba. Karena seandainya tulang-tulang berantakan (setelah dibuka kuburnya -pent) padahal kita menguburnya dalam keadaan lurus tulang-tulangnya maka iman dalam hal ini menajdi iman kepada perkara nyata (bukan ghaib lagi -pent).
[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh 'Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 54-55]
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 17 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Telah tsabit dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Allah Ta’ala berfirman,
"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari." (Shahih Muslim no.4832)
Pada sebagian atsar disebutkan: Allah Ta’ala berfirman,
Ahli dzikir-Ku adalah ahli majelis-Ku, ahli syukur-Ku adalah ahli ziarah-Ku. Orang yang senantiasa taat kepada-Ku, ia akan mendapatkan kemuliaan-Ku. Orang yang maksiat kepada-Ku, Aku tidak membuatnya putus asa dari rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat maka Aku adalah kekasih mereka. Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang gemar bertaubat. Jika mereka tidak betaubat maka Aku adalah penyembuh mereka, Aku uji mereka dengan musibah hingga Aku bersihkan mereka dari dosa-dosa."
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا يَخَافُ ظُلْمًا وَلا هَضْمًا
"Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaahaa: 112)
Dikatakan bahwa orang yang berbuat kezhaliman akan ditimpakannya dosa-dosa orang yang dizhaliminya. Sedangkan al Hadhm (sebagimana tersebut dalam ayat di atas) yaitu akan mengurangi amalan-amalan baiknya.
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Doa dan Dzikir Shahih, Renungan Salaf | Leave a Comment »
Posted on 16 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Kalau ada yang berkata: Jika mayat tersebut tercabik-cabik atau dimakan binatang buas atau diterbngkan angin, bagaimana adzab terjadi pada orang tersebut? dan bagaimana keadaan pertanyaan kepadanya?
Jawab:
Sesungguhnya Allah itu maha kuasa atas segala sesuatu dan ini adalah perkara ghaib maka Allah maha mampu untuk mengumpulkan bagian-bagian yang terpisah tersebut di alam ghaib. Walaupun kita melihatnya di dunia jasadnya terpisah-pisah berjauhan akan tetapi di alam ghaib Allah Tabaroka wata’ala mengumpulkannya.
Maka lihatlah kepada malaikat yang turun mencabut ruh manusia dalam suatu tempat tertentu sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ
"dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat," (al Waqi’ah: 85)
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 16 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Kalau ada yang berkata: Apakah kenikmatan dan adzab kubur itu terus menerus atau terputus-putus?
Jawab:
Adapun adzab terhadap orang kafir adalah terus menerus dan tidak mungkin akan dihilangkan atas mereka karena mereka memang berhak mendapatkannya. Dan kalau adzab dihentikan dari mereka, berarti mereka akan bisa beristirahat (dari adzab -pent) padahal mereka itu tidak berhak untuk itu. Maka mereka terus menerus diadzab hingga hari kiamat walau sangat panjang waktunya.
Maka kaum nabi Nuh ‘Alaihis salam yang ditenggelamkan terus menerus diadzab di dalam api yang mereka dimasukkan ke dalamnya dan adzabnya berlangsung hingga kiamat. Demiikian pula pengikut Fir’aun selalu diperlihatkan kepada mereka api neraka siang malam.
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 10 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Dinamakan dengan hari akhir karena sudah tidak ada hari lagi sesudahnya dan ini adalah tahapan akhir yang dialami manusia. Dan manusia itu mengalami lima tahapan kehidupan:
Tahapan ketiadaan, kemudian tahapan di alam rahim, kemudian alam dunia, dan kemudian alam barzakh, dan kemudian alam akhirat.
1. Tahapan ketiadaan adalah sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Tabaroka wata’ala,
هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (al Insan: 1)
Dan Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." (al Hajj: 5)
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 11 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan
Nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada umat manusia tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Di antara nikmat paling agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan adalah diciptakan-Nya mereka di atas fitrah yang mulia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Rum: 30)
Di antara fitrah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan umat manusia di atasnya adalah mencintai kebenaran dan mencarinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Hati adalah makhluk yang mencintai kebenaran, menginginkan dan mencarinya.” (Majmu’ Fatawa, 10/88)
Beliau pun berkata: “Maka sesungguhnya al-haq (kebenaran) itu dicintai fitrah yang baik, dan dia (al-haq) itu lebih dicintai, lebih dimuliakan, lebih lezat bagi fitrah dibandingkan kebatilan yang tidak ada hakikatnya. Sungguh fitrah tidak mencintai hal ini.” (Majmu’ Fatawa, 16/338)
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Akhlak Salaf, Al Manhaj As Salafus Shalih, Firqah Hizbiyah, Hidupkan Sunnah, Matikan Bid'ah, Renungan Salaf, Urgensi Dakwah | Leave a Comment »
Posted on 11 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Maka Ahlus Sunnah beriman dengan fitnah kubur dan beriman dengan azab kubur dan nikmat kubur.
Fitnah di sini bermakna ujian. Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah pertanyaan-pertanyaan pada mayit apabila telah selesai dikubur tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya. Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman kepada fitnah kubur karena al Quran dan as Sunnah telah menerangkan demikian. Adapun di dalam al Quran, Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman,
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (Ibrahim: 27)
Maka sesungguhnya ini adalah menjelaskan masalah fitnah kubur sebagaimana telah tsabit dalam as shahihain dan lainnya dari hadits al Bara’ bin Azib Radhiallahu’anhu dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam. [1]
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 12 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Maka dikatakan kepada seseorang…
Yang berkata adalah dua orang malaikat yang mendatangi di kuburannya dan keduanya mendudukannya dan bertanya padanya hingga dia (mayit) mendengar suara sandal-sandal orang yang meninggalkannya setelah menguburkannya dan keduanya bertanya kepadanya. oleh karena itu termasuk petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam adalah apabila mayit telah dikuburkan beliau Shallallahu’alaihi wasallam berdiri di samping kuburannya dan berkata,
وَعَنْ عُثْمَانَ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ: "اِسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ, فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ" ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ الْحَاكِم
Dari Utsman Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam bila selesai pemakaman mayit, beliau berdiri di atasnya dan bersabda: "Mintalah ampunan untuk saudaramu dan mohonkan ketetapan hati untuknya sebab ia sekarang sedang di tanya." Riwayat Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Hakim.

(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Renungan Salaf, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 14 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Kemudian setelah fitnah ini, ada yang mendapatkan nikmat kubur atau adzab kubur
Kata "Kemudian" di sini mengandung arti berurutan, tidak ada selangnya. karena manusia itu diadzab atau dieri nikmat secara langsung (setelah diuji -pent).
Sebagaimana yang telah berlalu, bila seorang mayit berkata, "Saya tidak tahu", maka dia akan dipukul dengan mirzabah dan di sana juga ada mayit yang menjawab dengan benar maka dibukakan pintu ke surga untuknya dan dilapangkan kuburnya. Maka ini adalah nikmat atau adzab kubur, apakah hal ini ditimpakan kepada badan atau ruh saja? atau ruh bersama dengan badan?
Kita katakan: Yang ma’ruf menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa pada asalnya adzab itu ditimpakan atas ruh, sedangkan badan itu sekedar mengikuti ruhnya saja. Sebagaimana adzab di dunia itu menimpa badan dan ruhnya hanya mengikuti saja, sebagaimana hukum-hukum syar’iyyah di dunia itu atas zhahirnya dan di akhirat itu sebaliknya.
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 14 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
… kecuali manusia.
Yakni bahwasanya manusia tidak mendengar teriakan tersebut (teriakan orang yang disiksa di dalam kubur) karena beberapa hikmah:
Pertama: seperti yang diisyaratkan nabi Shallallahu’alaihi wasallam dengan perkataan beliau,
"Kalaulah seandainya kalian tidak saling menguburkan, niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar Allah memperdengarkan adzab kubur kepada kalian." (Riwayat Muslim no. 2867 dari Zaid bin Tsabit Radhiallahu’anhu)
Kedua: dirahasiakannya hal tersebut untuk menutup rahasia atau aib-aib mayit.
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 15 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Maka dikatakan kepada mayit tersebut, "Siapa Rabbmu? dan apa agamamu? dan siapa nabimu?"
Perkataan beliau, "Siapa Rabbmu?" Yakni siapakah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan engkau beribadah kepada-Nya dan yang engkau khususkan dalam beribadah? terangkum dalam kalimat ini tauhid rububiyah dan uluhiyah.
Perkataan beliau, "Apa agamamu?" Yakni apakah amalanmu yang engkau engkau beragama dengannya untuk Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya?
Perkataan beliau, "Siapakah nabimu?" Yakni siapakah nabi yang engkau beriman dengannya dan engkau mengikutinya?
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Maka Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim: 27)
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »
Posted on 15 November 2009 by Admin Blog Sunniy Salafy
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Bisa jadi kenikmatan atau adzab kubur
Di sini ada penetapan adzab kubur. Al Quran dan as Sunnah Rasul telah menerangkan demikian, bahkan kita katakan ijma’ kaum Muslimin.
Dalil dalam al Quran
Adapun dalam kitabullah, maka kisah 3 golongan yang dijelaskan di akhir surah al Waqi’ah sangat jelas menerangkan kepastian adanya adzab kubur dan kenikmatannya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
|
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, |
فَلَوْلا إِذَابَلَغَتِ الْحُلْقُومَ |
|
padahal kamu ketika itu melihat, |
وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍتَنْظُرُونَ |
|
dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, |
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ |
|
maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? |
فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ |
|
Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?, |
تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ |
|
adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), |
فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ |
|
maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. |
فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ |
|
Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, |
وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ |
|
maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. |
فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ |
|
Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, |
وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ |
|
maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, |
فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ |
|
dan dibakar di dalam neraka. |
وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ |
|
Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. |
إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ |
|
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar. |
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ |
(al Waqi’ah: 83-96)
(selengkapnya…)
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah | Leave a Comment »