Antara Seorang Manager Dengan Buruh Pabrik

Abu Harun As Salafy

Pernahkah engkau melihat pekerjaan seorang manager? Duduk di belakang meja menghadap laptop/notebook, menganalisa data, jika ada yang kurang beres hanya menyuruh teamnya untuk mengecek hal itu. Jika ada yang diperlukan tinggal panggil adminnya untuk menyediakan datanya. Fasilitasnya lengkap dengan internet 24 jam, telepon, HP atau BlackBerry dan disediakan mobil plus uang BBM dari perusahaan. Inilah seorang manager. Pekerjaannya ringan dengan gaji tinggi. Di akhir tahun selalu ada bonus tahunan dan di setiap bulan selalu ada insentif bulanan. Wow betapa  senangnya. Demikian pula pekerjaan seorang supervisor atau teamleader, duduk manis dan tinggal menunggu laporan harian, mingguan, dan seterusnya dari bawahannya mereka masing-masing.

Tahukah engkau kenapa demikian? karena mereka semua ini, orang-orang pintar ini memiliki ilmu, analisa, dan daya estimasi yang tinggi yang dengannya ia dibanggakan sehingga perusahaan berani menggaji tinggi untuknya. Ia bekerja dengan ilmunya.

(selengkapnya…)

Ayo Ikut Aku Menemui Istrimu, ‘Aina

Al Ustadz Abu Zaky bin Muchtar

Dari Tsabit Al Banani Rahimahullah dia menceritakan, ada seorang pemuda yang terlibat dalam sebuah peperangan. Pemuda tersebut begitu kuat keinginannya untuk menjadi seorang syuhada. Entah berapa peperangan yang telah ia ikuti namun syahid tak kunjung menyapanya. Sehingga pemuda itu bertekad jika dalam peperangan ini dirinya tidak terbunuh di jalan Allah, aku akan kembali ke kampung halaman dulu, kata pemuda tersebut kepada kawan-kawan seperjuangannya. "Aku mau menikah", katanya berbinar.

Hari itu panas cukup menyengat. Orang yang sedang berpuasa seperti dirinya berusaha mencari tempat berteduh, seperti di bawah pohon yang tidak jauh dari kemah pasukannya. Tak lama kemudian pemuda inipun terlelap tidur siang. Menjelang matahari tergelincir para sahabatnya membangunkan pemuda tersebut untuk sholat Zhuhur. Namun mereka keheranan, tidak seperti biasanya ia bersegera untuk sholat. Pemuda itu tidak bergegas mengambil air wudlu, ia bahkan menangis tersedu saat terjaga dari tidurnya.

(selengkapnya…)

Wanita Muslimah Harus Memelihara Rambutnya dan Membiarkannya Panjang

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

Wanita Muslimah harus memelihara rambutnya dan membiarkannya panjang, dan haram mencukur atau memotong kecuali karena darurat. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh Rahimahullah, Mufti kerajaan Saudi Arabia berkata, "Rambut kepala wanita tidak boleh dicukur (dipotong), berdasarkan hadits yang diriwayatkan An Nasa’i dalam Sunannya dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu, dan diriwayatkan Al Bazzar dalam Musnadnya dengan sanadnya dari Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu, serta diriwayatkan Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ikrimah Radhiallahu’anhu, mereka berkata,

"Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang wanita mencukur (memotong) rambutnya."

(Kaidah: Suatu larangan jika datangnya dari nabi Shalallahu’alaihi wasallam maka bentuk larangan itu menetapkan hukum pengharaman selagi tidak ada dalil lain yang menentangnya.)

Mulla Ali Qari dalam kitabnya Al Mirqat Syarh Al Misykat berkata: Kata penulis Al Misykat, "Sekiranya wanita mencukur (memotong) rambutnya", yang demikian itu karena rambut panjang mengurai ke belakang yang merupakan kekhasan bagi wanita. Ditinjau dari bentuk dan keindahannya adalah laksana jenggot yang merupakan kekhasan bagi lelaki" [Syaikh Muhammad Ibrahim, Majmu' Fatawa 2/49]

(selengkapnya…)

Wanita Boleh Bekerja di Luar Rumah

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

Kita tidak menentang wanita bekerja di luar rumahnya, asalkan terikat dengan ketentuan-ketentuan syariat. Ketentuan-ketentuan itu adalah sebagai berikut:

1. Bahwa wanita itu, atau masyarakat butuh pekerjaan itu, di mana tidak ada lelaki yang dapat menangani pekerjaan itu.

2. Hendaknya ia melakukan pekerjaan itu setelah melaksanakan pekerjaanya di rumah yang merupakan tugas utamanya.

3. Hendaknya pekerjaan itu di lingkungan wanita, seperti mengajar wanita, mengobati dan merawat wanita. Dan hendaknya pekerjaan itu terpisah dari kaum lelaki.

4. Begitu pula tidak mengapa, bahkan wajib wanita menuntut ilmu tentang perihal agamanya. Dan tidak mengapa ia mengajarkan perihal agama yang dibutuhkan oleh sesama wanita. Namun proses belajar mengajar itu hendaknya dalam lingkup wanita. Dan tidak mengapa wanita menghadiri majelis taklim di masjid atau semacamnya dengan bertabir dan terpisah dari lelaki, sesuai dengan apa yang dilakukan wanita di awal sejarah Islam (di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan para shahabat Radhiallahu’anhum), di mana mereka bekerja, menuntut ilmu, dan mendatangi masjid.

[Dinukil dari kitab Tanbiihat 'ala Ahkam Takhtash bil Mukminat, Penulis Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, Edisi Indonesia Sentuhan Nilai Kefiqihan Untuk Wanita Beriman, Diterbitkan oleh Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta, hal. 11-12]

Upaya-Upaya Syar’i Untuk Memelihara dan Menjaga Kemuliaan dan Kesucian Wanita (Bagian 4 – TAMMAT)

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

(Bagian 4 – TAMMAT)
Larangan Khalwah (Berduaan Antara Wanita dan Lelaki yang Bukan Mahram)

Di antara upaya memelihara farj (kemaluan) adalah larangan berduaan antara wanita dan lelaki yang bukan mahramnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah sekali-kali ia berduaan bersama seorang wanita yang tidak didampingi oleh mahramnya. Karena yang ketiganya adalah syaithan."

Dari Amir bin Rabi’ah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Ketahuilah janganlah sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya, karena yang ketiganya adalah syaithan, kecuali ia mahramnya."

(selengkapnya…)

Upaya-Upaya Syar’i Untuk Memelihara dan Menjaga Kemuliaan dan Kesucian Wanita (Bagian 3)

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

(Bagian 3)
Melarang Wanita Bepergian Kecuali Bersama Mahramnya

Di antara sarana untuk menjaga farj (kemaluan) adalah melarang wanita bepergian kecuali bersama dengan seorang mahram yang menjaga dan melindunginya dari minat busuk lelaki iseng dan fasiq. Banyak hadits shahih yang melarang wanita bepergian tanpa mahram. Di antara hadits itu adalah,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

((لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ))

“Tidak boleh seorang wanita bepergian (safar) sejauh perjalanan tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1086, 1087 dan Muslim no. 1338)

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah melang wanita bepergian selama perjalanan dua hari atau dua malam (hari) kecuali ia ditemani oleh suaminya atau seorang mahram.

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

(selengkapnya…)

Upaya-Upaya Syar’i Untuk Memelihara dan Menjaga Kemuliaan dan Kesucian Wanita (Bagian 2)

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

(Bagian 2)
Menjauh Dari Mendengarkan Nyanyian dan Musik

Di antara sarana untuk menjaga farj (kemaluan) adalah menjauh dari mendengarkan nyanyian dan musik. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighatsatul Lahfan 1/242, 248, 264, dan 265 mengatakan,

"Di antara tipu daya yang dimainkan oleh syaithan untuk memperdaya orang yang kurang ilmu, akal, dan kesadaran keberagamaannya, dan yang digunakan olehnya untuk menjerat hati orang-orang bodoh dan penurut kebathilan adalah mendengarkan siul, tepuk tangan, dan nyanyian yang diiringi alat musik yang diharamkan yang dapat menghalangi hati dari Al Quran dan membuatnya senantiasa berperilaku fasiq dan maksiat. Itu semua adalah "Quran-nya" syaithan dan tabir tebal yang menghalangi dari Allah Ar rahman. Ia adalah mantera pembujuk kepada laku sodomi dan zina. Dengannya lelaki hidung belang mendapatkan dari pasangannya klimaks angan-anagannya."

(selengkapnya…)

Upaya-Upaya Syar’i Untuk Memelihara dan Menjaga Kemuliaan dan Kesucian Wanita (Bagian 1)

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

(Bagian 1)
Menahan Pandangan Mata

Wanita seperti halnya lelaki, diperintahkan kepadanya menahan pandangan dan menjaga kemaluannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya." (QS. An Nuur: 30-31)

Guru kami, Syaikh Muhammad Al Amin As Syinqithi dalam tafsirnya Adhwa’ Al Bayan mengatakan, "Allah Subhanahu wata’ala memerintahklan kepada para mukmin lelaki dan wanita untuk menahan dan memelihara kemaluan. Termasuk memelihara kemaluan adalah memeliharanya dari melakukan zina, liwath / sodomi (hubungan seks antara sesama jenis). Juga memelihara dari menampak-nampakkan maupun ketersingkapnya di depan orang."

(selengkapnya…)

Download: PopUp Al Quran.exe

Bismillah,

Saya punya software yang otomatis bisa menampilkan PopUp yang berisi Ayat Al Quran, Hadits, perkataan para ulama salaf, doa, dan syair. Dengan ini diharapkan kita bisa lebih mengakrabkan diri dengan ayat Al Quran (terjemah) dan nasihat yang bersumber dari As Sunnah dan ucapan Salafus Shalih ketika kita sedang berada di depan layar komputer. Software ini gratis (FREEWARE).

Bisa diset waktu kemunculannya, skin, font, dan ukuran tulisan.

Download:


| http://jeda.co.nr | Ukuran: 3.41 MB

 

Semoga bermanfaat



Ebook: Offline sunniy.wordpress.com.chm Versi 03

بسم الله الرحمن الرحيم

Ini adalah seluruh arsip file artikel yang ada di blog ini [sunniy.wordpress.com] updated 08 Juni 2009. Kami kemas dalam bentuk chm. Semoga bermanfaat untuk kaum Muslimin.

Kuras habis artikel blog ini [Menu Download tidak termasuk di dalamnya]



| Ebook Arsip artikel sunniy.wordpress.com on CHM
Versi 03| 2.2 MB

Bolehnya Menisbatkan Diri Kepada Generasi Salaf dan Memakai Gelar Salafiyyah

Syaikh Abdussalam bin Salim As Suhaimi

Telah dimaklumi bersama bahwa seruan untuk mengikuti salaf atau dakwah kepada salafiyah tidak lain merupakan dakwah kepada Islam yang benar. Dan kembali kepada sunnah yang murni merupakan seruan untuk kembali kepada Islam seperti yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diajarkan kepada para sahabat yang mulia Radhiyallahu ‘anhum. Maka tidaklah ragu bahwa dakwah ini adalah dakwah yang benar sehingga menisbatkan diri kepadanya adalah benar. Sungguh para imam kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah memiliki pengaruh yang besar dalam berdakwah kepada sunnah, kembali ke jalan salaf, kembali kepada manhaj mereka dan mencontoh mereka. Di antara para imam tersebut adalah imam-imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah : Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah, Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Husain Al-Ajuri, Imam Abu Abdillah bin Baththah Al-Ukbari dan Imam Abul Qasim Isma’il bin Muhammad Al-Ashbahani. Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim, dan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab serta para Imam dakwah sesudah beliau. Mereka memberi andil dalam memunculkan manhaj salaf seiring dengan perjalanan waktu, menyirami pondasi agama dan aqidahnya dengan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu‘alaihi wasallam, serta perjalanan hidup Salafus Shalih dan tabi’in. mereka seluruhnya tegak membantah kebid’ahan yang menyimpang dari pondasi ini.

Jika hal itu diketahui, maka kita kembali kepada judul pasal ini,

جواز الانتساب إلى السلف والتلقب بالسلفية

“Bolehnya Menisbatkan Diri Kepada Generasi Salaf dan Memakai Gelar Salafiyyah”.

(selengkapnya…)

Pembahasan Sebagian Dalil Wajibnya Mengikuti Salafus Shalih dan Konsisten Terhadap Madzhab Mereka

Syaikh Abdussalam bin Salim As Suhaimi

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada Ku” (QS. Luqman : 15)

Sesungguhnya Allah Azza wajalla telah memerintahkan kita untuk mengikuti jalan para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meniti atsar, dan menempuhi manhaj mereka. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menerangkan setelah menyebutkan ayat tersebut, “Seluruh sahabat kembali kepada Allah Ta’ala, maka wajib mengikuti jalannya dan perkataannya, dan keyakinannya yang merupakan jalan-Nya yang paling besar. Allah Subhanahu wata’ala telah mengingatkan kita agar tidak menyelisihi jalan mereka dan Allah Ta’ala juga mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan mereka dengan ancaman Api Jahannam, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

(selengkapnya…)

Pengertian As Sunnah

Syaikh Abdussalam bin Salim As Suhaimi

Sebagaimana telah diketahui bahwa diantara nama-nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah "Salafiyyun", sangatlah sesuai bila dijelaskan apa pengertian As Sunnah menurut bahasa dan istilah, kemudian kita uraikan pengertian Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta sebab-sebab munculnya istilah tersebut.

As Sunnah menurut bahasa adalah thariq (jalan) dan sirah (sejarah hidup) [Lihat An Nihayah Ibnu Atsir (2/409), Lisanul ‘Arab (17/89)]. Para Ulama bahasa berselisih pendapat; apakah menurut bahasa pengertian As Sunnah itu hanya terbatas jalan yang baik (thariq hasanah) ataukah mencakup jalan yang baik maupun yang buruk? Yang benar ialah bahwa menurut bahasa, As Sunnah adalah thariq (jalan) yang baik maupun yang buruk. Di antara hal-hal yang menunjukan pengertian ini adalah hadits Nabi Shalallahu’alaihi wa salam.

Al-Mundzir bin Jarir menceritakan dari ayahnya Jarir bin Abdillah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ. ومَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

(selengkapnya…)

Wasilah dan Uslub (Metode) Manhaj Salaf Dalam Berdakwah (Bagian 7 – TAMMAT)

Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi

Pembahasan Ketujuh – TAMMAT
AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR DAN PEDOMANNYA

Amar ma’ruf nahi munkar adalah wasilah besar yang Allah Subhanahu wata’ala perintahkan, menjadikannya sebagai watak para nabi dan Rasul Shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihim dan ciri bagi hamba-Nya yang beriman. Bahkan sebagai dalil atas kebaikan dan keberuntungan mereka di dunia dan akhirat, di mana Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (An Nahl: 90)

Dan firman-Nya ketika menerangkan sifat nabi-Nya,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

(selengkapnya…)

Wasilah dan Uslub (Metode) Manhaj Salaf Dalam Berdakwah (Bagian 6)

Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi

Pembahasan Keenam
USLUB HAJR Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

Maksud dan Tujuan Hajr

Adapun yang menjadi tujuan hajr ini ialah meninggalkan orang-orang yang durhaka (maksiat) dan ahli bid’ah. Tidak bergaul dengan mereka, duduk bermajelis dengan mereka, sebagai peringatan keras bagi mereka agar jangan sampai tersebar kesesatan dan kepalsuan mereka di tengah-tengah kaum muslimin.

Dasar penerapan uslub hajr ialah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)." (Al An’am: 68)

dan firman Allah Subhanhu wata’ala,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

"Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam," (An Nisaa’: 140)

Al Imam Asy Syaukani Rahimahullah dalam fathul Qadir (2/122) menerangkan, "Di dalam ayat ini terkandung pelajaran yang sangat berharga bagi mereka yang selalu bermajelis dengan ahlul bid’ah yang suka merubah-rubah kalamullah, mempermainkan kitab-Nya (Al Quran) dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam kemudian mereka kembalikan interpretasinya kepada hawa nafsu dan kebid’ahan mereka. Maka kalau seperti ini tidak dapat diingkari atau dirubah keyakinan sesat yang ada padanya paling tidak harus dijauhi majelisnya. Dan tentunya yang terakhir ini jauh lebih mudah."

(selengkapnya…)

Wasilah dan Uslub (Metode) Manhaj Salaf Dalam Berdakwah (Bagian 5)

Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi

Pembahasan Kelima
USLUB TA’LIFUL QULUB (MENGIKAT HATI) Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

Suatu ketika memang dibutuhkan oleh da’i upaya menjinakkan dan menyatukan manusia untuk menerima dakwahnya dan mengamalkan apa yang dianjurkannya atau meninggalkan apa yang dilarangnya. Dalam hal ini dia perlu mendekatkan urusan ini kepada hati mad’u (obyek dakwah) dan mengalihkannya kepada itiba’ al haq (mengikuti kebenaran). Boleh jadi pula dia perlu menolak keburukan yang hampir terjadi. Dan ini demi kemashlahatan agama bukan karena mengikuti hawa nafsu. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah mengambil cara ini karena harapan agar diterimanya al haq dan diikuti.

Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiallahu’anhu: Bahwa pada waktu perang Hunain, ketika Allah menganugerahkan fa’i jarahan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, berupa harta-harta kabilah Hawazin, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mulai membagikan para pemuka Quraisy seratus ekor unta, orang-orang Anshar berkata, "Semoga Allah mengampuni Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau memberikan para pemuka Quraisy dan meninggalkan kami (tidak memberi kami), sedangkan pedang-pedang kami masih meneteskan darah mereka." Anas bin Malik berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam diceritakan tentang ucapan mereka. Lalu beliau memanggil orang-orang Anshar. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam mengumpulkan mereka dalam sebuah kemah dari kulit yang disamak. Setelah semua berkumpul, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam datang dan bertanya, "Pembicaraan apa yang sampai kepadaku dari kalian?" Orang Anshar yang paham menjawab, "Orang-orang yang paham di antara kami wahai Rasulullah, tidak mengatakan apa-apa. Sedangkan orang-orang yang masih muda di antara kami mengatakan: Semoga Allah mengampuni Rasul-Nya, beliau memberi orang Quraisy dan meninggalkan kami, sedangkan pedang-pedang kami masih meneteskan darah mereka."
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Sungguh, aku memberikan (harta rampasan) kepada orang-orang yang baru saja meninggalkan kekafiran adalah untuk mengokohkan hati mereka. Tidakkah kalian rela jika mereka pergi mendapatkan harta, sedangkan kalian kembali ke rumah kalian bersama Rasul (utusan Allah)? Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang itu lebih baik dari apa yang mereka bawa."
Mereka berkata, "Ya, wahai Rasulullah, kami rela.
Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Sungguh, kalian akan mendapati pilihan berat, maka bersabarlah kalian hingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya (sampai mati) dan berada di telaga."
Mereka berkata, "Kami akan bersabar (tetap bersama engkau)." (Shahih Muslim No.1753)

(selengkapnya…)

Wasilah dan Uslub (Metode) Manhaj Salaf Dalam Berdakwah (Bagian 4)

Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi

Pembahasan Keempat
USLUB JIHAD Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

Makna jihad secara bahasa

Kata jihad ini secara mutlak sama dengan arti al jahd, thaqah, man’ah, dan wus’u. [Lisanul 'Arab 2/396-397]. Kadang juga dimutlakkan kepada puncak dari semua urusan dan sikap mubalaghah (berlebihan) dalam menumpahkan semua usaha dan kemampuan, baik ucapan maupun perbuatan.

Makna jihad secara istilah

Dalam hal ini, kata ini mempunyai ikatan erat dengan pengertian menurut bahasa. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, "Mencurahkan segenap kesungguhan atau keseriusan dalam memerangi orang-orang kafir. Dimutlakkan juga kepada jihad terhadap hawa nafsu dan syaithan." (Lihat Fathul Bari, 6/5; Nailul Authar, 7/208; Asy-Syarhul Mumti’, 8/7)

Adapun jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah) merupakan amalan taqarrub dan ketaatan yang paling utama dan paling mulia. Bahkan seutama-utama taqarrub yang dilakukan oleh seorang hamba yang orang-orang mau berlomba-lomba setelah amalan-amalan yang fardhu (wajib). Hal ini tidak lain karena buah yang diperoleh dari jihad ini, seperti kemenangan bagi kaum Muslimin, terangkatnya agama ini, dan kalahnya orang-orang munafik serta orang-orang kafir.

(selengkapnya…)

Wasilah dan Uslub (Metode) Manhaj Salaf Dalam Berdakwah (Bagian 3)

Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi

Pembahasan Ketiga
USLUB MUJADALAH Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

Makna mujadalah secara bahasa

Sebuah ungkapan innahu lajadilun, jika dia keras dalam berdebat, juga ungkapan wa innahu lamijdalun. Al Jadal artinya menghadapi hujjah (argumentasi) dengan hujjah pula. Al Mujadalah artinya berdebat atau berbantah-bantahan. Dan yang dimaksud di dalam hadits adalah mendebat atau membantah kebathilan. Berusaha untuk menang dan menampilkan al haq (kebenaran), karena hal itu terpuji.

Pengertian mujadalah menurut istilah dan yang berhak dihadapi dengan uslub ini

Al Jadal artinya menghadapi hujjah dengan hujjah pula. Atau menyingkap syubhat (kerancuan) yang ada pada mad’u (obyek dakwah). Hal ini jelas dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (An Nahl: 125)

Dan firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik". (Al Ankabut: 46)

(selengkapnya…)

Wasilah dan Uslub (Metode) Manhaj Salaf Dalam Berdakwah (Bagian 2)

Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi

(Bagian 2)
USLUB AL MAU’IZHAH Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

Pengertian mau’izhah secara bahasa dan istilah

Al ‘Izhah, Al Mau’izhah, dan Al Wa’zhu, juga dalam bentuk susunan Ar Rajulu yatta’izh jika dia menerima nasihat ketika diingatkan kepada kebaikan dan hal-hal lain yang melunakkan hatinya.

Jadi, kalimat ini artinya adalah nasihat, peringatan dengan (menerangkan) akibat (perbuatannya), dan hal-hal yang dapat menjadikan hati seseorang menjadi lembut, apakah dengan menyebutkan adanya pahala atau hukuman yang diterimanya akibat perbuatan atau sikapnya.

Maka jelaslah melalui pengertian secara bahasa, bahwa makna istilah kalimat ini ialah bimbingan dan nasihat serta pengarahan dengan segala sesuatu yang dapat membuat lembut hati seseorang, misalnya dengan mengingatkannya kepada hukuman atau pahala yang akan diterimanya akibat sikap dan perbuatannya.

Dan pengertian menurut istilah ini jelas berkaitan erat dengan pengertian secara bahasa, dari sisi dalalah yang pertama (pengertian bahasa) kepada yang kedua (istilah).

(selengkapnya…)

Wasilah dan Uslub (Metode) Manhaj Salaf Dalam Berdakwah (Bagian 1)

Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi

(Bagian 1)
USLUB AL HIKMAH Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

Pengertian hikmah secara bahasa dan istilah

Kata al hikmah kadang dimutlakkan kepada pengertian ilmu dan pemahaman (fiqh). termasuk apa yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

"Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak" (Maryam: 12)

Orang-orang arab mengatkan, "Hakamtu, Ahkamtu, dan Hakkamtu sama maknanya dengan mana’tu dan radadtu (menolak, mencegah). Dari pengertian ini dikatakanlah orang yang memutuskan perkara di antara manusia sebagai hakim [Tahdzibul Lughah (4/110-111)]

Kadang juga dimutlakkan dengan makna adil. Dikatakan juga: Ahkamul Amru yang artinya Atqanah (mengokohkannya), dan al hakiim artinya al mutqin lil umur (kuat dalam mengurus suatu perkara).

Sebetulnya tidak ada perbedaan pada masing-masing makna ini. Semuanya menuju pada satu titik persoalan yang sama. karena adanya ilmu dan fiqih dalam masalah agama akan mencegah pemiliknya dari hal-hal yang menyimpang dari agama dan muruah (harga diri). Kedua hal ini akan mendorong pemiliknya untuk kokoh dalam menghadapi suatu persoalan. jadi, tidak ada yang bertentangan dalam makna-makna ini.

(selengkapnya…)

Ebook: Offline Blog Sunniy Salafy Versi 02

بسم الله الرحمن الرحيم

Ini adalah seluruh arsip file artikel yang ada di blog ini [sunniy.wordpress.com] updated 08 April 2009. Kami kemas dalam bentuk chm. Semoga bermanfaat untuk kaum Muslimin.

Kuras habis artikel blog ini [Menu Download tidak termasuk di dalamnya]



| Ebook Arsip artikel sunniy.wordpress.com on CHM
Versi 02| 1.9 MB

Islam Tidak Menyuruh Dakwah Kepada Kekuasaan Negeri, Namun Menyuruh Dakwah Kepada Tauhid (Bagian 1)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 1)


Ikhlas merupakan pokok agama dan inti seluruh ajaran Islam. Pokok yang dimaksud adalah ajaran tauhid yang menjadi tujuan Allah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Kepada ajaran tauhid ini pula para Nabi ‘alaihimus shalatu wassalaam menyeru umat manusia, bersungguh-sungguh memperjuangkan, memerintahkan dan mengajak manusia berpegang teguh dengannya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ. أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS Az Zumar: 2-3)

Dan firman Allah Ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat Demikian itulah agama yang lurus.” (QS.Al Bayyinah: 5)

Allah berkata kepada Nabi-Nya Shallallahu’alaihi wasallam:

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي. فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ

“Katakanlah: ‘Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memumikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama-ku.’ Maka sembahlah olehmu (Hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia.” (QS. Az Zumar: 14-15)

(selengkapnya…)

Islam Tidak Menyuruh Dakwah Kepada Kekuasaan Negeri, Namun Menyuruh Dakwah Kepada Tauhid (Bagian 2)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 2)


Karena berbagai kepentingan, mereka mencela da’i-da’i yang menyeru kepada tauhid dengan anggapan bahwa usaha para da’i tersebut hanya menghabiskan waktu, sementara umat dalam kondisi terkepung oleh musuh dari segala penjuru dan tempat. Mereka melemparkan tuduhan keji terhadap orang-orang yang berjuang untuk membela tauhid dengan mengatakan bahwa para da’i ini hanya akan memecah belah kaum muslimin dan tidak akan bisa menyatukan mereka. Mereka menamakan usaha pembelaan terhadap hak Allah ini dengan nama yang tidak semestinya supaya manusia lari darinya. Mereka mengistilahkan dakwah tauhid ini dengan “Pernyataan-pernyataan yang kacau” atau “Debat orang-orang Romawi Timur (Bizantium)”. Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya. Keterangan di atas menjadi bekal bagi kamu menghadapi orang-orang yang menyeru kepada akidah yang rusak yang menjelek-jelekkan orang-orang yang menyelisihinya. Tidak ada gunanya membantah mereka (terlampau dalam) di sini, karena dasarnya mereka memang sudah rusak.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam senantiasa menekankan kepada para da’i untuk memperhatikan benar-benar perkara ini dan agar mereka memulai dakwahnya dengan tauhid. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu bahwa beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu tatkala beliau Shallallahu’alaihi wasallam mengutusnya ke negeri Yaman:

إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله -، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب

(selengkapnya…)

Islam Tidak Menyuruh Dakwah Kepada Kekuasaan Negeri, Namun Menyuruh Dakwah Kepada Tauhid (Bagian 3)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 3)


Akan tetapi, mengherankan, orang-orang yang selama ini mengajarkan kepada manusia perkara zuhud, akhlak atau politik atau yang lainnya di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan itu bisa merasa tenang. Mereka sama sekali tidak menggerakkan orang mempermasalahkannya. Bahkan terkadang tatkala ada orang yang mempermasalahkan hal tersebut karena merasakan pentingnya tauhid, mereka berdiri sambil berteriak-teriak dengan nada menghasut: “Itu hanya memecah belah umat! Terlalu tergesa-gesa dan tidak hikmah (bijaksana)! Orang-orang Komunis selamat dari celaannya, tetapi orang-orang shalih (yang dikubur di masjid-masjid dan diibadahi itu) tidak selamat dari celaannya!”

Mana ikhlas yang mereka serukan? Bagaimana mereka mau memperjuangkan Islam? Bagaimana mereka tidak marah melihat aturan Allah dilanggar?! Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:

اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku ini sebagai berhala yang disembah. Sangat besar murka Allah terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid (tempat ibadah).” (HR. Malik, Abdur Razaq dan Iain-Iain) [1]

(selengkapnya…)

Islam Tidak Menyuruh Dakwah Kepada Kekuasaan Negeri, Namun Menyuruh Dakwah Kepada Tauhid (Bagian 4)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 4)


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Kemuliaan ilmu itu tergantung kepada apa yang dibahas, dan tidak ragu lagi bahwa ilmu yang paling mulia dan agung adalah ilmu bahwa Allah adalah Dzat yang tidak ada llah yang berhak disembah selain Dia Rabbul ‘Alamin, Yang menegakkan langit-langit dan bumi, Raja yang haq yang nyata, yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan jauh dari segala cacat dan kekurangan serta dari segala penyamaan dan penyerupaan dalam kesempurnaan-Nya. Juga tidak ragu lagi bahwa ilmu tentang Allah, tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling mulia dan agung.”

Beliau melanjutkan, “Dan ilmu tentang Allah merupakan pokok serta dasar pijakan semua ilmu. Barangsiapa yang mengenal Allah, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang tidak mengenal Rabb-nya, terhadap yang lain dia lebih tidak mengenal lagi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ

“Dan jangarilah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah jadikan mereka lupa kepada dirinya sendiri.” (QS. Al Hasyr: 19)

(selengkapnya…)

Islam Tidak Menyuruh Dakwah Kepada Kekuasaan Negeri, Namun Menyuruh Dakwah Kepada Tauhid (Bagian 5)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 5)


Karena itu, seorang hamba tidak boleh keluar dari ketaatan kepada Rabb-nya atau mengurangi rasa syukur kepada-Nya dan merasa aman dari azab-Nya terlena oleh nikmat-nikmat Allah yang dia peroleh dan menyangka bahwa Allah ridha kepadanya dengan hanya sedikit ketaatan.

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Apakah kalian merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga), maka tidak merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99) [1]

Berkata Dzun Nun rahimahullah: “Ketahuilah bahwa yang bisa membangkitkan rasa malu mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah kalau mereka mengetahui kebaikan Allah kepada mereka dan mereka mengetahui betapa mereka telah menyia-nyiakan apa yang Allah wajibkan atas mereka untuk bersyukur kepada-Nya, padahal bersyukur kepada-Nya itu tidak pernah ada habisnya sebagaimana keagungan-Nya.” [2]

(selengkapnya…)

Islam Tidak Menyuruh Dakwah Kepada Kekuasaan Negeri, Namun Menyuruh Dakwah Kepada Tauhid (Bagian 6) TAMMAT

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 6 – TAMMAT)


Riya’. Sebagaimana halnya tauhid yang merupakan lawan dari syirik, maka lawan ikhlas adalah riya’. Dan sebagaimana cahaya ikhlas akan padam dari hati seseorang yang berpenyakit ‘ujub atau bangga terhadap diri sendiri, maka demikian pula halnya dengan penyakit riya’. Ikhlas tidak akan pernah bersanding dengannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

“Dan orang-orang yang menginfakkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia, dan tidak didasari iman kepada Allah dan hah akhir. Barangsiapa yang menjadikan setan sebagai teman, maka (setan itu) sejelek-jelek teman.” (QS. An Nisaa: 38)

Riya’ adalah sifat orang munafik yang paling nyata, karena mereka menampakkan apa yang tidak ada di batin mereka. Allah Ta’ala berfirman:

يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا

“Mereka riya’ kepada manusia dan tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit.”(QS. An Nisa: 142)

(selengkapnya…)

Demokrasi Bukanlah Jalan Kebenaran

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi


Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa jalan yang mengantarkan kamu kepada nikmat Islam itu hanya satu, karena Allah telah menetapkan keberuntungan hanya untuk satu golongan saja. Allah berfirman:

أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Mereka itu adalah golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah, mereka itulah yang beruntung.” (QS. Al Mujadillah: 22)

Allah juga menetapkan bahwa kemenangan juga hanya untuk satu golongan. Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

“Dan Barangsiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolong, maka sesungguhnya golongan (pengikut agama) Allah mereka itulah orang yang mendapat kemenangan.” (QS. Al Maidah: 56)

Kalau kita membaca ayat Al Qur’an atau hadits, maka akan kita dapatkan keterangan bahwa perpecahan umat menjadi beberapa golongan atau kelompok sangat dicela dan dibenci. Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum: 31-32)

(selengkapnya…)

Demokrasi Menyelisihi Al Quran dan As Sunnah Sesuai Pemahaman Salafus Shalih

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi


Sesungguhnya tidak ada perselisihan di kalangan kaum muslim sejak dahulu hingga sekarang, bahwa jalan yang Allah ridhai untuk kita adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Jalan itulah yang harus mereka lewati, meskipun terkadang mereka berbeda pendapat ketika mengambil dalil jalan tersebut. Allah telah menjamin akan menganugerahkan keistiqamahan (konsisten di jalan yang lurus) kepada orang-orang yang mengikuti Al Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah tentang perkataan jin dalam Al Qur’an.

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lag] memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al Ahqaaf: 30)

Allah juga menjamin akan memberikan keistiqamahan kepada para pengikut Rasul yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syura: 52 )

Akan tetapi, sayang, umat Islam berpaling dari jalan (yang lurus) menjadi berkelompok-kelompok. Ini karena mereka telah melalaikan rukun yang ketiga yang berfungsi sebagai pendukung (untuk memahami) Al Qur’an dan As Sunnah. Rukun yang ketiga itu adalah pemahaman para salafus shalih terhadap Al Qur’an dan As Sunnah. Dan surat Al Fatihah telah mencakup rukun-rukun yang tiga ini dengan penjelasan yang sempurna. Allah berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

(selengkapnya…)

Thoghut Demokrasi Berbuah Penyakit Jiwa (Bagian 1)

Pada beberapa edisi sebelumnya telah kami sampaikan artikel
Thoghut Demokrasi Berlumuran Darah. Maka insya Allah pada kali ini kami sampaikan artikel Thoghut Demokrasi Berbuah Penyakit Jiwa. Memang produk kafir Yunani dan Yahudi yang satu ini betul-betul membuahkan penyakit jiwa bagi penyembahnya.

Selalu ada hal-hal yang kacau setiap kali selesai Pemilu, baik Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Anggota Dewan maupun Pemilihan Presiden. Mereka menjadi marah karena tidak lolos sebagai pemenang atau mendapatkan jatah kursi padahal uang sudah mereka keluarkan dalam jumlah yang banyak ketika kampanye. Mereka menjadi emosi lantaran kandidat yang diusungnya kalah mendapatkan suara terbanyak. Di antara mereka ada yang stress, ada yang hilang ingatan (gila), ada yang selalu melamun memikirkan nasib, bahkan ada yang bunuh diri. Di antara mereka ada yang menyumbang karpet ke masjid atau sarana umum untuk warga, lantaran kalah ia menarik kembali sumbangan yang diberikan, keikhlasannya menjadi hilang karena ternyata warga tetap tidak memilihnya memenangkan pemilu.

Ini menunjukkan demokrasi betul-betul thoghut yang harus dihancurkan, dialah (demokrasi) biang kerok ini semua terjadi. Dialah (demokrasi) yang membuat kaum muslimin semakin jauh dari agamanya semula. Dialah (demokrasi) yang membuat kaum muslimin menyibukkan diri kepadanya daripada menyibukkan diri kepada ilmu Islam. Dialah (demorasi) yang membuat beberapa ikhwan yang sudah paham agama menjadi bermudah-mudahan melakukan bid'ah, kesyirikan, perbuatan maksiat, dan tasyabbuh dalam keadaan paham bahwa itu menyelisihi agama Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam, tapi bagaimana lagi demi meraih suara terbanyak, beberapa ikhwan menjadi munafiqin. -Admin Blog Sunniy Salafy-

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 1)


Pembahasan ini termasuk yang paling penting di antara keenam landasan yang ada dalam buku ini, karena pembahasan ini bertujuan menjelaskan dasar atau landasan dari amalan kita yang perlu dilakukan dengan giat dan sungguh-sungguh.

Sebagian orang Islam takut dengan kekuatan orang-orang kafir dan orang-orang yang sesat yang begitu hebat. Karena itu mereka berpandangan bahwa kemuliaan akan bisa mereka rebut kembali dengan menghadapi kekuatan orang-orang kafir dan sesat tefsebut dengan kekuatan yang lebih kuat lagi.

Merekapun memanfaatkan setiap sarana-sarana yang mereka miliki untuk menyaingi kekuatan itu hingga mereka meremehkan ilmu syar’i tanpa mempedulikan sama sekali. Akan tetapi, walaupun mereka berusaha menata organisasinya dan memperbaiki manajemennya serta memperkuat kekuatan dan mempelajari tipu-daya musuh, tetap saja tidak akan dikaruniai kemuliaan dan kejayaan kalau mereka tidak membangun amal perbuatan dan seluruh kegiatan mereka dengan ilmu (ilmu syar’i), serta menjunjung kedudukan dan martabat ilmu dan ahli ilmu. Allah Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

(selengkapnya…)

Thoghut Demokrasi Berbuah Penyakit Jiwa (Bagian 2)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 2)
Melindungi Diri dari Kehancuran dengan Mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah


Saya berharap dengan membaca judul di atas seseorang tidak hanya mengiyakan atau membenarkan begitu saja, karena sebenarnya masalah ini sudah sangat dipahami oleh kaum muslimin sekalipun sebagian dari mereka memahaminya sekedar teori. Yang saya inginkan adalah agar orang-orang Islam yang belum mau tunduk dengan ketentuan Al Qur’an dan As Sunnah, padahal mereka menyaksikan bagaimana orang-orang kafir dan orang-orang munafik bersatu padu untuk menghancurkan negeri-negeri Islam dan kawasan-kawasan yang dihuni oleh kaum muslimin. Spanyol dan Palestina telah mereka kuasai dan kini tinggal kenangan. Bosnia dan Herzegovina sekarang sedang terluka. Memang, kaum muslimin sekarang ini semakin lemah dan tidak berdaya. Ini disebabkan karena perhatian mereka terhadap sumber kekuatan mereka sendiri yaitu Al Qur’an dan As Sunnah berkurang dan menyusut. Akhirnya mereka dihinakan oleh Allah Subhanahu waTa’ala karena mereka berburuk sangka atau tidak mau mempedulikan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka menganggap bahwa Al Qur’an dan As Sunnah sangat lemah dan kecil pengaruhnya bagi (kebahagiaan dan ketenangan) jiwa atau diri pribadi. Mereka yang tidak menerima seruan tersebut di atas juga beranggapan bahwa dakwah yang sekarang ini ada di masjid-masjid tidak mampu menggerakkan umat atau sangat lambat dalam memobilisasi mereka serta sama sekali tidak mampu menyaingi berbagai media milik orang-orang komunis, Yahudi dan Nashrani.

(selengkapnya…)

Thoghut Demokrasi Berbuah Penyakit Jiwa (Bagian 3)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 3)
Ancaman Kesesatan dan Kekafiran bagi Orang yang Menyelisihi Rasul Shallallahu'alaihi wasallam

Selama Allah menetapkan keteguhan bagi pengikut Nabi-Nya Shallallahu'alaihi wasallam dalam agamanya, maka selama itu pula Dia menetapkan bahaya (musibah dalam agamanya) bagi orang-orang yang menyelisihinya. Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا. فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul niscaya kamu lihat orang-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya agar tidak mendekati (kamu). Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian datang kepadamu sambil bersumpah: Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.’” (QS. An Nisa: 61-62)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata sehubungan dengan ayat di atas: “Mereka bersumpah tatkala mereka itu, mendapat suatu musibah yang menimpa akal mereka, atau agama, keyakinan, badan, dan harta mereka dikarenakan mereka berpaling dari apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan mengangkat selain Beliau Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hakim atau mencari hakim atau kepastian hukum kepada selain Beliau Shallallahu’alaihi wasallam. Ini difirmankan oleh Allah Subhanahu waTa’ala:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

(selengkapnya…)

Thoghut Demokrasi Berbuah Penyakit Jiwa (Bagian 4-TAMAT)

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

(Bagian 4 – TAMMAT)
Disegerakannya Hukuman bagi Orang-Orang yang Menyelisihi Para Rasul

Sebagaimana halnya Ittiba’ kepada para rasul akan senantiasa mendapat pertolongan, maka sebaiiknya, menyelisihi para rasul akan mendatangkan kehinaan. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الأذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al Mujadalah: 20)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam

وَجُعِلَ الذِّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

"…dan dijadikan kehinaan dan kekerdilan atas orang yang menyelisihi perintahku." (Riwayat Ahmad (2/50), Ibnu Abi Syaibah (5/322) dan selain keduanya. Riwayat ini Hasan. Lihat As-Siyar karya Adz Dzahabi (915/509) dan Al Fath karya Ibnu Hajar (6/98))

Tafsirnya, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Bid'ah itu disertai dengan perpecahan, sedangkan Sunnah disertai dengan persatuan. Oleh karena itu, dikatakan Ahlus Sunnah waljama'ah sebagai lawan dari Ahlu Bid'ah dan Al Furqah. (Al Istiqamah (1/42) dan jika engkau menghendaki lihat kitab Ijma’ul Juyus Al Islamiyah karya Ibnul Qayyim (hal.6))

Para ulama telah sepakat bahwa sebab-sebab kekalahan yang paling besar adalah karena perselisihan; dan perselisihan yang paling keras -tidak ragu lagi- adalah berselisih dalam hal agama. Dan apabila munculnya perselisihan tersebut karena sikap meremehkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah gabungkan keduanya dalam satu ayat. Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا

“Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan jangan kalian berselisih yang menyebabkan kalian menjadi gentar.” (QS. Al Anfaal: 46)

(selengkapnya…)

Klarifikasi Pencemaran Nama Baik “abu tilmidz”

Bismillah,

Ada seseorang yang memalsukan identitas saya atas nama “abu tilmidz” di blognya Abu Muhammad Waskito. Dan saya sudah tidak pernah memakai nick tersebut. Lihat penjelasan saya di sini

Dengan ini saya katakan bahwa yang menulis komentar itu bukanlah saya dan akan saya mintakan pertanggung jawabannya nanti di yaumil hisab.

Dan saya telah meridhoi 100% tulisan-tulisan Blog Fakta tentang diri saya. Saya nasihatkan kepada Abu Muhammad Waskito untuk mendeleted komentar tersebut dari blognya beliau dan saya nasihatkan kepada si penulis komentar yang memalsukan untuk bertaubat dan takutlah kepada Allah atas usaha buruknya kepada saya.

Abu Harun As Salafy.

Memperingatkan Atas Thoghut Demokrasi Termasuk Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Asy Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

Saya merasa berkepentingan untuk menyertakan dasar kelima ini dalam pembahasan (kitab) ini. Hal ini dikarenakan orang-orang yang masih lemah dan sedikit ilmunya masih merasakan kesempitan dada (sebagai tanda kurang begitu setuju) ketika mereka membaca bantahan-bantahan seperti ini. Mereka beranggapan bahwa sikap mereka tidak mau membantah orang lain lebih dekat kepada sikap seorang yang wara’ dan lebih bisa menjaga kehormatan dan nama baik sesama kaum muslimin.

Dengan menerawang sekilas kepada sejarah para ‘ulama, anda akan mengetahui bahwa dalam setiap masa, mereka tidak pernah berhenti membantah orang-orang yang menyelisihi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam walaupun yang mereka bantah termasuk sebaik-baik orang yang beriman. Dan tatkala kebanyakan kelompok-kelompok Islam mengubur apa yang mereka namakan sebagai naqd dzaati (kritikan terhadap pribadi-pribadi) dan memadamkan semangat amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan alasan untuk menutupi kelemahan kaum muslimin, atau untuk menghimpun kesatuan dalam menghadapi orang-orang kafir dan alasan-alasan kemanusiaan yang lain, maka kebenaran haruslah dikembalikan ke tempatnya semula. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman:

لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ

Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). (QS. Al Anfaal: 42)

(selengkapnya…)

Mengangkat Penyakit Demokrasi Dari Tubuh Kaum Muslimin

Asy Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

Setelah kita jelas bahwa kemuliaan umat Islam tergantung kepada kualitas ilmu dan amal. Kita juga telah tahu bahwa dalam kedua hal tersebut umat Islam berselisih dengan perselisihan yang banyak, apalagi ditambah dengan dimasukkannya ke dalam Islam apa-apa yang sebenarnya bukan dari Islam. Telah diketahui bahwa tidak ada jalan untuk terlepas dari kehinaan yang menimpa kita dari generasi ke generasi kecuali dengan kembali kepada agama yang benar, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian berjual beli dengan sistem 'inah (barang dengan dua harga-termasuk salah satu jenis riba) dan kalian sibuk dengan urusan peternakan serta urusan pertanian dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan kerendahan kepada kalian yang tidak akan dicabut dari kalian sebelum kalian kembali kepada agama kalian.” [Riwayat Abu Dawud (3462) dan riwayat ini Shahih, Lihat Ash-Shahihah karya Al Albany nomor 11]

Wajib bagi kita untuk bersegera mewujudkan apa yang bisa mengangkat kehinaan itu dari kita. Dan jalan tersebut adalah dengan kembali kepada kemumian dua wahyu: Al Qur’an dan As sunnah sesuai dengan pemahaman tiga generasi pertama. Ketika penyimpangan (tahrif) telah mengotori kemurnian Islam, juga telah menodai keindahan Islam, maka usaha tashfiyah (membersihkan Islam dari segala kotoran yang masuk) dalam seluruh aspek ajarannya merupakan salah satu kewajiban yang paling utama. Ini karena kebenaran yang Allah Subhanahu wata'ala turunkan dengan mengutus Nabi-Nya Shallallahu’alaihi wasallam masih dijamin oleh Allah kelestariannya sampai di suatu hari di mana langit dan bumi digoncangkan kelak. Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

(selengkapnya…)